Kamis, 27 Januari 2011

Bangsat

"Udah pada bubar belom?"
Bingung entah ada angin apa, tiba tiba ada pesan masuk dari Ikal yang bunyinya seperti itu.

"bubar apaan kal? ditanyain Rijal tuh helm nya dia dimana"

Setelah menunggu sekian lama, tak juga ada balasan masuk ke handphone saya. Setelah agak lama menunggu datang pesan masuk.

"Ok.. Mau ga'gw ada nih...he.3x."

Makin tak mengerti arah pembicaraan ini saya pikir.

"Apaan si?
Kaga ngarti gw,
ckckck"

setelah menunggu lagi, ternyata tidak ada balasan sama sekali.

Masih teringat ketika tadi sore Ikal pergi ke meminjam helm kawan saya Rijal untuk pergi menjemput teman saya Kekal. Atas dasar pertemanan teman-teman saya memang tidak berkeberatan jika harus menjemput dan mengantar orang, sepanjang tidak hal yang sedang dilakukan. Pergilah kawan saya itu setelah meminjam helm Rijal yang kebetulan ditaruh di kamar saya.

Sekitar jam 7 malam, datanglah Ikal ke kamar saya, raut mukanya terlihat amat pusing. "Lah mana si Kekal? jemput dia dimana lw?"

"di Cibiru tadi" katanya.

"eh lw tadi sms bubar, bubar apaan dah?"

"mana smsnya? gw kaga sms lw sama sekali."

Saya perlihatkan sms yang saya terima dari dia. Diam dia sejenak memperhatikan tulisan di handphone saya itu, dilihatnya Pesan Terkirim dan Kotak Masuknya. Tiba-tiba berdiri dia, berjalan ke arah pintu meja, melihat ke arah luar jendela, dan hendak mengunci pintu. Pintu kamar saya memang agak susah untuk di kunci, karena memang posisi jantan dan betina slot kunci itu tidak terlalu sama. Tetapi terlihat jelas di raut wajahnya bahwa kesusahannya menutup pintu kamar saya menyiratkan ada sesuatu yang ingin disampaikannya.

Saya pun membantunya untuk menutup pintu kamar saya itu. Duduklah kami saling berhadapan, memang tidak benar benar berhadapan, saya menghadap sedikit ke komputer saya.

"Tadi yang sms lw tuh bukan gw, gw ga pernah sms lw"

"Waduh??" sudah agak terbaca arah raut wajah kawan saya tadi.

"Tadi tuh gw dibawa ke rumah sakit buat tes urin, di Hasan Sadikin."

Fikiran saya masih tenang saat tau kejadiannya seperti itu, karena saya tau kawan saya yang satu ini bukanlah pemakai, setidaknya dalam 2 tahun ini.

"Positif."

"hah??" Keyakinan saya sekejap hilang mendengar ucapannya itu. "loh kok?"

"Nah itu dia yang gw bingung. Tadi gw dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, buat di tes urin, gw liat sih alatnya, gw liat semuanya, tapi kan ga mungin gw positif. Pertama sih gw udah curiga kenapa mesti kesana, maksud gw kan banyak rumah sakit laen, Ga usah sampe jauh-jauh kesana."

"Tunggu-tunggu bentar, lah lw gimana caranya bisa sampe cibiru trus diabawa?" heran saya melihat dia bisa sampai disana.

" jadi gini, tadi Kekal sms nih, isinya nanya tapi gini isinya. "ente dimana? bisa jemput ane ga?". Terus gw bales tuh, itu ke nomor AS nya, tadi gw telfon ke no M3 nya, tapi ga keangkat, gw telfon ke AS nya dibalesnya sama dia, katanya mic hpnya rusak. Abis itu ada sms lagi masuk dari no M3 nya, katanya dia lagi nganterin nyokapnya aci, makanya tadi ga ke angkat. Tapi pas itu gw udah dibawa sama orang itu."

Sejenak saya mencerna perkataan kawan saya ini. " trus gimane?"

"Gw pas di alfa itu smsan, sebelum nyampe, dia nanya, gw dimana, udah sampe mana. Tapi bahasanya aneh. Gw juga ga merhatiin lagi kan, orang lagi dijalan juga gw. Sampe depan alfa itu di datengin gw. Gw tanya kan siapa, trus dilitain lah itu tanda bintang. Yaudah ikut akhirnya gw."

"Tunggu tunggu bentar, kok dia bisa make no nya si Kekal?" tanya saya, agak bingung dengan bagian cerita yang ini.

"Ternyata tuh dia kemaren kena juga, kalo gw sih curiganya gitu"

"yaudeh tar tanya aja ama bocahnya, lah trus gimana nasib lw ketauan positif? kok bisa kesini lw?"

"Abis di tes itu puyeng gw, kok bisa positif, makin bingung kan gw. Dia nya minta damai."

"Trus?"

"Gw kasih lah itu semua duit yang di ada di tabungan gw, duit bayaran gw buat itu, sama duit jajan gw."

"anjing!" kontan cuma kata-kata itu yang keluar dari mulut saya. "Lah trus lw mau gimana sekarang?"

"Persetan lah sama uang itu, biarin aja lah dimakan sama dia, biar jadi bangke dalem perutnya."

"Trus lw bayaran kuliah gimana?"

"Biarin lah nanti dipikirin gimana, makan numpang numpang aja lah sama anak-anak"



In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.


-- Brian Massumi

HBD WYATB

Racauan saya ini bermula di Twitter saya @omalfin. Racauan saya tentang ucapan ulang tahun di di Facebook, dan mari kita bahas kembali, secara lebih mendetail.

Sudah lama saya sadar teman saya di facebook berulang tahun hampir setiap hari. Teman saya di facebook saya ada 832. Teman di facebook saya adalah teman yang benar-benar teman, artinya saya kenal mereka melalui dunia nyata, bertemu, bercengkrama.
"menulis selamat ulang tahun ga lebih mahal kan ya daripada nulis HBD di wall facebook atau di twitter?"
Itulah kicauan pertama saya di twitter tentang ucapan selamat ulang tahun. tulisan itu berangkat dari hasil candaan saya dengan beberapa teman yang dan dengan seorang teman saya yang berulang tahun. Ketika itu teman saya yang sedang berulang tahun menerima ucapan selamat ulang tahun melalui sms yang isinya "HBD".
"apa-apaan nih sms cuma HDB doang?? macam pake 3sia aja di itung per karakter." jawab seorang teman saya yang lain.
"tolong balesin dong." Kata empunya hajat
"bales apa?"
"Y"
Tertawa saya mendengar balasan dari teman saya itu, tapi memang pantas, mau nulis sms kok kayak nulis telegram.

Kita tinggalkan tentang kisah teman saya yang berulang tahun. Kita kembali ke topik permasalahan. Entah siapa yang memulai tapi setelah menelaah beberapa profile teman saya yang sedang berulang tahun saya melihat beberapa kesamaan.

Pertama, ucapan selamat ulang tahun tidak lebih dari 5 kata, dan banyak pula yang hanya menuliskan singkatan singkatan seperti yang saya tulis di akun twitter saya, seolah untuk menulis lebih banyak kata dan lebih banyak kalimat itu adalah sesuatu yang mahal.

Saya punya sedikit perkiraan yang mungkin bisa sedikit menjelaskan bagaimana semua itu bisa terjadi. Di pojok kanan atas ada tulisan "event". Dari situlah kecurigaan saya berasal, ketika seseorang membuka akun facebooknya mungkin mereka merasa tertekan karena mereka merasa tahu bahwa teman mereka di facebook sedang berulang tahun, dan dogma yang beredar bahwa kalau ada orang yang berulang tahun maka haruslah diberi selamat. Mungkin itulah yang mendorong adanya simplifikasi dan berbagai macam modifikasi terhadap cara pengucapan, agar terlihat ringkas, padat, dan tepat sasaran. *bagus ya bahasanya

Tetapi notifikasi tidak selalu bersifat baik, memang notifikasi di facebook itu sangat baik untuk orang yang sedang menjadi gerilyawan untuk mendapatkan perhatian atau mencari tahu tentang seseorang, tetapi disisi lain notifikasi tersebut juga menurunkan kadar "makna" dari ucapan tersebut. Karena sesuatu yang spesial adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh semua orang. Berlian menjadi sangat spesial karena tidak semua orang bisa memiliki berlian, kita harus mengeluarkan usaha terlebih dahulu.

Hal itulah yang terjadi pada ucapan ulang tahun sekarang ini. Berlian-berlian tersebut turun kastanya, karena semua orang bisa memilikinya, semua orang bisa mengucapkannya, semua orang yang membuka akun facebooknya bisa mengetahuinya.

Baik memang, tapi menurut saya hal itu menurunkan kadar kespesialan ucapan selamat ulang tahun tersebut. Selain itu juga itu menutup peluang seseorang untuk lupa akan hari ulang tahun seseorang. Berapa banyak acara kejutan yang gagal hanya gara-gara seseorang sudah tau bahwa dia dikerjai karena dia sadar teman-temannya membuka facebooknya dan mengetahui kalau hari itu dia berulang tahun.

Pernah punya pengalaman waktu SMP (waktu saya smp belum ada friendster, Facebook, atau mungkin sudah ada tapi saya dan teman-teman saya belum tahu) diberi kejutan karena anda berulang tahun. Istimewa bukan, karena mereka mengingat tanggal ulang tahun anda, memberikan perhatian lebih kepada anda. Indah bukan karena teman teman saya mengetahui info anda dari tanda yang ada di kalendernya atau di dalam diarynya.

Dengan menonaktifkan notifikasi ulang tahun di facebook membuat anda memberikan kesempatan lebih kepada orang-orang yang memberikan perhatian lebih kepada anda untuk menjadi spesial dimata anda. Karena mereka mengucapkan selamat kepada anda bukan karena ada tulisan di pojok kanan atas beranda Facebooknya, mereka mengucapkannya karena mereka peduli dengan anda.
Pernahkah sekali kali anda membandingkan ucapan ulang tahun yang datang di Facebook anda dengan yang pernah anda terima 4, 5 atau beberapa tahun yang lalu? manakah yang menurut anda lebih punya "nilai tambah".
Berikut ini saya cantumkan beberapa komentar teman-teman saya yang saya dapat dari akun twitter saya.


 Shellya Febriana A.
@ Kalo notif ultah di off, jadi bener2 tau sapa yg emang inget ultah ama engga.

 Rusty Tikarani
tp makin tua org makin pelupa dan g akan nginget hal2 gitu om, jd klopun lupa bkn berarti dia g perhatian :) @ re:mperhatikan dan tdk

 Rusty Tikarani
@ absolutely, tapi kita tidak bisa menghakimi orang itu peduli/tidak kepada kita hanya karena mereka ingat/tidak tanggal lahir kita.


 alfin tofler
@ emang ga cuma itu aja faktornya, tapi itu salah satu indikasinya, kalau dia setiap hari membuatkan makan apa lagi guna ucapan


 Rusty Tikarani
RT @: @ kalau dia setiap hari membuatkan makan apa lagi guna ucapan <- cetak tebal. setuju.

 Ines Sabatini Poetry 
klo gak mau disampahin. mendingan ga usah pny akun. kita kmbl ke jaman ngasih kartu ucapan :')

 Ines Sabatini Poetry 
asikan nulis tanggal lahir kamu di diary aku, kaya pas jaman sd. skalian mikes dan makes nya juga.


 Ajeng Chunduk 
@ 
gue tetep tau, @ ..bedain aja dari ucapannya. kalo ucapannya spesial, berarti orangnya emang mikirin buat doain dan nyemangatin.

Itu beberapa komentar dari teman-teman saya. Dan ini thesis statement saya :D
 alfin tofler
mencatat tanggal ulang tahun sama dengan mencatat no hp tak dikenal. Jika kalian anggap no itu tidak penting maka tak akan disimpan


Ini hanya racauan, setuju atau tidak itu pilihan anda. Jika ada saran atau komentar saya akan sangat senang sekali untuk menerimanya.
Seperti yang dosen saya selalu katakan



In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.

-- Brian Massumi