Kamis, 15 September 2011

"Wah Selamat ya Dia Orang Yang Terpilih"

Ucapan pada judul diatas sebenarnya baiknya diucapkan pada suasana apa? Pada saat pemilihan ketua organisasi? Pemilihan Presiden? Tetapi pernahkah terpikir jika ucapan itu diucapkan kepada pihak keluarga yang salah satu anaknya meninggal?

Saya akan mencoba mengurutkan bagaimana sistem pemilihan tersebut. Pertama, dalam pemilihan suatu organisasi, para tim suksesnya akan diberikan selamat karena calonnya telah menang dan dipilih oleh anggota organisasinya itu. Kedua dalam hal pemilihan kepala negara tentunya akan ada banyak orang akan memberikan selamat kepada partai yang mendukung dan keluarga atas terpilihnya orang tersebut sebagai Presiden. Bangga bukan. Mengapa hal itu tidak terjadi dalam kematian?

Kematian itu bukan pilihan manusia, Allah SWT lah yang memilih umatnya untuk menghadapnya. Kurang baik apalagi pencapaian umat manusia dibanding yang satu ini? Kematian untuk orang baik menurut saya untuk mencegah dia suatu hari bertindak jahat, sedangakan kematian untuk orang yang jahat untuk mencegah dia berbuat kejahatan lebih jauh lagi.

Kematian itu bukan hanya soal kesedihan, kematian itu juga menjadi ladang rezeki untuk orang lain, jika tak ada orang yang meninggal maka para penggali kubur tidak akan punya uang untuk membiayai keluarganya. Dengan kematian seseorang bisa menyelamatkan nyawa sang penggali kubur dan keluarganya. Sesungguhnya selalu ada sisi baik di setiap kejadian.

kayaknya ada salah kaprah dalam konsep mempersiapkan sesuatu, mempersiapkan itu kan artinya melakukan sesuatu untuk persiapan menyambut sesuatu. Misalkan ada keluarga yang mempersiapkan baju-baju bayi yang lucu untuk calon anaknya yang ada di dalam kandungan, dan orang tua yang mempersiapkan jas dan kebaya untuk mendampingi anaknya yang akan diwisuda.

Ya itulah mempersiapkan, lalu dimana salahnya? bukan salah sebenarnya, cuma ada sesuatu yang kurang untuk dipersiapkan, kelahiran anak dan wisuda anak itu merupakan suatu yang akan terjadi, tapi masih ada kemungkinan gagal. Ketika anda mempersiapkan diri anda untuk menyambut anak anda lahir kedunia dengan segalam macam peralatannya anda akan merasa sedih karena yang telah anda persiapkan untuk anak anda menjadi tidak berguna ketika sang ibu mengalami keguguran dan sang cabang bayi tidak jadi lahir. Mungkin akan keluar omongan entah dari siapapun itu, "sayang banget yah, padahal udah dipersiapin".

Hal yang sama juga akan terjadi ketika seorang anak ternyata Drop Out atau kehabisan masa studinya di universitas, padahal para orang tua telah mempersiapkan jas dan setelan kebaya untuk menghadiri acara wisuda anak mereka tersebut. Selalu ada kekecewaan jikasesuatu yang kita persiapkan secara matang mengalami kegagalan.

Tetapi hal ini tidak akan terjadi dengan kematian, kematian itu suatu yang pasti, yang membedakan itu hanyalah waktu, cara dan tempatnya saja. Kalau kita menyamakan persepsi dengan kedua kejadian diatas mungkin harusnya ada ucapan "yaaah ga jadi meninggal, padalah udah dipersiapkan semuanya".

Bukankah lebih baik kita mempersiapkan diri untuk sesuatu yang pasti daripada yang tidak pasti? Yang menyebabkan kesedihan mungkin hanya ketidaksiapan diri kita untuk menerima kehilangan. Orang tua saya selalu mengatakan ini yang harus kamu lakukan kalau papa meninggal, kamu haus ini, itu  oleh karena itu dari sekarang kamu harus belajar ini, itu. Jadikanlah kehilangan kami kelebihan untukmu, kami pun tak mau jika dalam keadaan meninggal pun kami masih menjadi beban.

Mungkin akan indah jika saya meninggal dan orang-orang datang dengan tersenyum ke pemakaman saya karena saya orang yang terpilih :)


In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.



-- Brian Massumi

Rabu, 14 September 2011

Karena Nilai Setitik Rusak Pendidikan Sebelanga

Beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengan bapak saya ketika sedang berada diperjalanan menuju ke bandara.
"Pa gimana si ade raportnya?"
"Jelek raportnya, rata-rata paling 6,5, cuma ada satu atau dua nilai yang nilainya di atas nilai rata-rata kelasnya."
Setelah itu mulailah kami membicarakan tentang presati akademik adik-adik saya dan saudara-saudara saya dan bagaimana kira-kira jadinya nanti mereka. Dikarenakan saya merupakan anak pertama jadi otomatis semua patokan nilai ada di saya. Saya pernah mendengar suatu kali salah satu orang tua berkata kalau misalkan adik saya tidak cukup pintar untuk dapat masuk universitas negeri atau lulus yang namanya SMPB waktu jaman saya ikut. Sedih sih denger orang terdekat kita meremehkan kemampuan kita, tapi saya juga pernah punya persepsi sama seperti itu. Mungkin melalui tulisan ini saya sekaligus meminta maaf kepada adik saya tentang persepsi saya itu. Hal itu dikarenakan pengetahuan saya saja yang kurang tentang intelligence.

Baru saja saya membaca buku yang sudah sekitar setahun saya beli, judulnya Rich Kid Smart Kid karangan Robert T Kiyosaki. Sebuah buku yang saya baca dengan terlambat setelah persepsi saya terbentuk, tapi terlambat lebih baik bukan daripada tidak berubah. 

Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind mengidentifikasi bahwa ada tujuh kecerdasan yang berbeda. Saya ga akan menulis ketujuh-tujuhnya karena nanti yang anda baca adalah penafsiran saya tentang tujuh kecerdasan tersebut bukannya apa yang Howard Gardner tulis, so selamat mencari :)

Intinya yang dipakai untuk mengukur kadar seseorang itu pintar atau tidak itu di zaman sekarang ini adalah kecerdasan linguistic-verbal yang merupakan kemampuan bawaan seseorang untuk membaca dan menulis kata-kata. 

Jika linguistic-verbal hanya merupakan satu dari tujuh buah kecerdasan yang ada mengapa kita harus menghakimi seseorang dari satu sisi saja, tidak dari enam sisi kecerdasan lainnya yang mungkin dimilikinya? ya itulah yang saya lakukan terhadap adik-adik saya, dan untuk itu saya mohon maaf sekali lagi. 

Yang menjadi masalah ketika anda menilai seseorang adalah sikap anda ke orang tersebut. Mari kita berandai-andai, jika anda menemui seseorang dengan muka judes dan seseorang dengan muka yang ramah manakah yang kira-kira akan anda pilih untuk diajak mengobrol terselbih dahulu?

Kebanyakan orang melakukan segala sesuatu menggunakan persepsinya sendiri, memang bukan merupakan suatu kesalahan, tapi apabila orang yang bermuka judes tersebut merupakan seseorang yang ternyata ramah dan sangat baik sedangkan orang yang bermuka ramah itu adalah tipe seorang penjahat apakah itu bukan sebuah kesalahan untuk anda/ 
Kita tidak memilih bagaimana bentuk rupa kita dan kecerdasan kita ketika dilahirkan, alangkah baiknya jika kita memberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan persepsi yang sama tentang dirinya dari diri kita.  Kita ambil lagi contoh adik saya (karena mungkin itu satu satunya contoh yang saya mau).  Setiap manusia pasti ingin memberikan atau paling tidak merasa dianggap sebagai sesuatu baik itu di dalam lingkungan sosial ataupun keluarga. Masalahnya datang ketika kecerdasan yang adik saya punyai itu bukanlah kecerdasan yang dianut atau dianggap ada oleh keluarga saya? Lalu apa yang dia lakukan? Ya tentu saja melakukan yang terbaik supaya mendapatkan perhatian dengan menggunakan nilai-nilai yang dianut oleh kedua orang tua saya walaupun itu sebenarnya bertentangan dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Apakah pembelajaran itu akan efektif jika seseorang pemain sepakbola diajarkan untuk selalu membaca buku tentang sepakbola?

Itulah sebuah pengantar yang cukup panjang, mari kita kembali ke judul tulisan ini. Sebenarnya apa sih tujuan pendidikan itu? Dalam GBHN sebenarnya pendidikan di Indonesia itu mendidik pekerja yang siap guna. Lihat kan? Siap guna. Oleh karena itu jika nilai anda hancur maka anda tidak akan bisa digunakan. Kembali lagi ke tujuh jenis kecerdasan adilkah jika seseorang dinilai dari satu sisi jika setiap orang mempunyai tujuh sisi? Sangat buruk di satu sisi bukan berarti seseorang tidak genius di sisi lainnya bukan?

Sebenarnya banyak yang ingin saya tulis, tapi dikarenakan hari sudah mencapai pukul enam sore dan di keluarga saya pukul enam sore itu merupakan waktu yang sakral maka saya akan menyudahi tulisan saya ini, mungkin suatu saat nanti saya akan melanjutkannya kembali, terima kasih telah membaca dan terima kasih yang teramat sangat untuk komentarnya :)

In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.



-- Brian Massumi