"Pa gimana si ade raportnya?"
"Jelek raportnya, rata-rata paling 6,5, cuma ada satu atau dua nilai yang nilainya di atas nilai rata-rata kelasnya."
Setelah itu mulailah kami membicarakan tentang presati akademik adik-adik saya dan saudara-saudara saya dan bagaimana kira-kira jadinya nanti mereka. Dikarenakan saya merupakan anak pertama jadi otomatis semua patokan nilai ada di saya. Saya pernah mendengar suatu kali salah satu orang tua berkata kalau misalkan adik saya tidak cukup pintar untuk dapat masuk universitas negeri atau lulus yang namanya SMPB waktu jaman saya ikut. Sedih sih denger orang terdekat kita meremehkan kemampuan kita, tapi saya juga pernah punya persepsi sama seperti itu. Mungkin melalui tulisan ini saya sekaligus meminta maaf kepada adik saya tentang persepsi saya itu. Hal itu dikarenakan pengetahuan saya saja yang kurang tentang intelligence.
Baru saja saya membaca buku yang sudah sekitar setahun saya beli, judulnya Rich Kid Smart Kid karangan Robert T Kiyosaki. Sebuah buku yang saya baca dengan terlambat setelah persepsi saya terbentuk, tapi terlambat lebih baik bukan daripada tidak berubah.
Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind mengidentifikasi bahwa ada tujuh kecerdasan yang berbeda. Saya ga akan menulis ketujuh-tujuhnya karena nanti yang anda baca adalah penafsiran saya tentang tujuh kecerdasan tersebut bukannya apa yang Howard Gardner tulis, so selamat mencari :)
Intinya yang dipakai untuk mengukur kadar seseorang itu pintar atau tidak itu di zaman sekarang ini adalah kecerdasan linguistic-verbal yang merupakan kemampuan bawaan seseorang untuk membaca dan menulis kata-kata.
Jika linguistic-verbal hanya merupakan satu dari tujuh buah kecerdasan yang ada mengapa kita harus menghakimi seseorang dari satu sisi saja, tidak dari enam sisi kecerdasan lainnya yang mungkin dimilikinya? ya itulah yang saya lakukan terhadap adik-adik saya, dan untuk itu saya mohon maaf sekali lagi.
Yang menjadi masalah ketika anda menilai seseorang adalah sikap anda ke orang tersebut. Mari kita berandai-andai, jika anda menemui seseorang dengan muka judes dan seseorang dengan muka yang ramah manakah yang kira-kira akan anda pilih untuk diajak mengobrol terselbih dahulu?
Kebanyakan orang melakukan segala sesuatu menggunakan persepsinya sendiri, memang bukan merupakan suatu kesalahan, tapi apabila orang yang bermuka judes tersebut merupakan seseorang yang ternyata ramah dan sangat baik sedangkan orang yang bermuka ramah itu adalah tipe seorang penjahat apakah itu bukan sebuah kesalahan untuk anda/
Kita tidak memilih bagaimana bentuk rupa kita dan kecerdasan kita ketika dilahirkan, alangkah baiknya jika kita memberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan persepsi yang sama tentang dirinya dari diri kita. Kita ambil lagi contoh adik saya (karena mungkin itu satu satunya contoh yang saya mau). Setiap manusia pasti ingin memberikan atau paling tidak merasa dianggap sebagai sesuatu baik itu di dalam lingkungan sosial ataupun keluarga. Masalahnya datang ketika kecerdasan yang adik saya punyai itu bukanlah kecerdasan yang dianut atau dianggap ada oleh keluarga saya? Lalu apa yang dia lakukan? Ya tentu saja melakukan yang terbaik supaya mendapatkan perhatian dengan menggunakan nilai-nilai yang dianut oleh kedua orang tua saya walaupun itu sebenarnya bertentangan dengan kecerdasan yang dimilikinya.
Apakah pembelajaran itu akan efektif jika seseorang pemain sepakbola diajarkan untuk selalu membaca buku tentang sepakbola?
Itulah sebuah pengantar yang cukup panjang, mari kita kembali ke judul tulisan ini. Sebenarnya apa sih tujuan pendidikan itu? Dalam GBHN sebenarnya pendidikan di Indonesia itu mendidik pekerja yang siap guna. Lihat kan? Siap guna. Oleh karena itu jika nilai anda hancur maka anda tidak akan bisa digunakan. Kembali lagi ke tujuh jenis kecerdasan adilkah jika seseorang dinilai dari satu sisi jika setiap orang mempunyai tujuh sisi? Sangat buruk di satu sisi bukan berarti seseorang tidak genius di sisi lainnya bukan?
Sebenarnya banyak yang ingin saya tulis, tapi dikarenakan hari sudah mencapai pukul enam sore dan di keluarga saya pukul enam sore itu merupakan waktu yang sakral maka saya akan menyudahi tulisan saya ini, mungkin suatu saat nanti saya akan melanjutkannya kembali, terima kasih telah membaca dan terima kasih yang teramat sangat untuk komentarnya :)
In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.
-- Brian Massumi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar