Selasa, 17 Januari 2012

Akhir dari kisah Pak Johan

Kemarin malam, tepat sekitar jam 8 seperti sekarang ini. Saya pergi ke tempat adik saya untuk sekadar mengambil titipan yang akan dibawa ke kampung saya. Tak menyangka bahwa ada telepon masuk ke hp saya.

Sebuah nomor tak dikenal. Ketika saya angkat dia bertanya.

“Ini benar pak Alfin?” Tanya suara diseberang telepon.

“betul pak, maaf ini siapa ya?” Tanya saya heran.

“Betul bapak yang bikin berita di harian X halaman 7?” tanyanya lagi.

“Betul pak, memang ada sebagian tulisan saya,” ujar saya masih keheranan.

Saat itu yang ada di pikiran saya adalah saya melakukan kesalahan penulisan. Mungkin ada salah satu pihak yang tersinggung atas tulisan saya. Memang hanya itu yang ada di benak saya pada malam itu.

“Betul kan bapak yang menulis tentang pak Johan?” tanyanya lagi.

Pertanyaannya kali ini tak langsung sayaberi jawaban. Otak saya masih berfikir tentang tulisan saya yang menyinggung salah satu pihak. Setelah beberapa detik terjebak dalam diam saya mulai menangkap pertanyaan orang di seberang jaringan telepon tersebut. Dia menanyakan Johan. Kuli pacul yang tempo hari saya wawancarai. Kuli pacul yang sudah melewati hari ke 14 tanpa mendapatkan orang yang menggunakan jasanya.

“Oh iya pak, saya yang menulis itu,” ujar saya terhenti dari berbagai pikiran yang sebelunya muncul. Satu hal yang saya takutkan ketika menulis tentang mereka yang tidak punya tempat tinggal adalah tulisan tersebut dibaca pihak berwajib yang akan menertibkan mereka. Namun suara diseberang menenangkan saya.

“Begini pak, saya seharian ini sudah nyari-nyari pak Johan ditempat yang bapak tulis. Tapi ga ketemu juga pak. Saya sudah berputar-putar disekitar sana,” ujar suara disebelah sana setengah putus asa.

Saya menunjukkan arah yang saya tahu. Karena jujur, kemarin untuk pertama kalinya saya kesana. Itu arah yang diberikan teman saya yang prihatin melihat penderitaan mereka.
Saya tidak mengira akan ada seseorang pembaca yang akan memberikan perhatian terhadap tulisan saya, terhadap nasib Bapak Johan. Sebenarnya informasi yang saya berikan malam kemarin juga tidak terlalu lengkap malam kemarin kepada suara di seberang jaringan telepon sana.
Akhirnya saya berinisiatif mengirimkan beberapa foto pak Johan yang untungnya saya ambil. Malam itu sesampainya dirumah saya kirimkan foto tersebut ke suara diseberang jaringan telepon tadi. Harapan saya semoga mereka tidak salah untuk memilih orang.
Di pagi hari. Ada pesan bahwa email yang saya kirimkan kepada suara diseberang jaringan telepon tersebut tidak sampai. Suara diseberang telepon tersebut meminta saya mengirimkannya secepatnya. Karena sebentar lagi dia akan segera pergi kesana dan menemui pak Johan.

Tepat pukul 10 pagi ini saya kirim gambar pak Johan kepada suara diseberang jaringan telepon tadi malam dengan alamat email yang lain. Harap saya mudah-mudahan kali ini terkirim.

Ketika saya sedang mengendarai motor saya ke kantor ada getaran di handphone saya. Ternyata ada 2 panggilan tidak terjawab, dari nomornya, ini nomor dari orang diseberang jaringan telepon tadi malam.
Saya pinggirkan motor saya dan menelpon kembali, mungkin ada yang penting, mungkin foto pak Johan tidak juga sampai. Ketika telepon terhubung dengan suara diseberang jaringan telepon itu suaranya terdengar begitu bersemangat.

“Pak alfin, saya sudah bertemu dengan bapak Johan,” ujarnya.

“Alhamdulillah, bagus kalo begitu pak,” ujar saya.

“Terima kasih ya pak fotonya,” ujarnya.

“Iya sama-sama pak,”

“Jadi gini pak, bos saya kalau ada maunya harus kesampaian. Jadi kemarin saya mencari pak Johan ga ketemu, makanya saya tanya ke harian mas bapak lagi. Tadi saya sudah ketemu dengan pak Johan. Lalu saya bawa dia bertemu dengan bos saya. Malahan bapak boss sendiri yang tadi mengantarkan pak Johan kembali ke kolong,” ujarnya.

“Makasih ya pak alfin udah menulis tentang pak Johan. Pak johan sudah diberi bantuan oleh boss saya sebesar *menyebutkan nominal yang jumlahnya beberapa kali gaji saya*,”

Disini sudah tidak penting lagi perasaan saya diceritakan :D Usaha pak Johan yang menunggu hampir sebulan tidak mendapat pekerjaan membuahkan hasil. Tadinya Johan hanya 300 ribu dan harus dikirim setengahnya ke keluarganya di kampung. Kini dia bisa mengirim lebih banyak uang untuk anak-anak dan istrinya dikampung.

Rezeki itu memang sudah diatur. Bagi Johan, rezeki itu datang dari ide redaktur berangkat ke pertanyaan di twitter turun ke jalan, diolah lagi oleh editor sampai kepada pembaca dan akhirnya Johan sudah tidak terlalu memperdulikan deritanya setelah 14 hari dimana dia tak kunjung mendapatkan pemakai tenaganya.


Terima Kasih Semua 
Ini gambar pak Johan :)

Kisah Tentang Johan, sang tukang pacul

Johan tinggal di kolong jembatan di depan  salah satu universitas swasta terkemuka di jakarta. Johan bekerja sebagai tukang gali. Ia menjajakan jasanya dengan mangkal setiap hari di pinggiran jalan menuju Tomang tersebut. Setiap hari dia menunggu orang yang akan memberinya pekerjaan lewat di jalan itu.

Kemarin dalah hari ketiga belas dia menunggu pekerjaan yang tidak kunjung datang. Setiap hari dari pagi sampai sore Johan bersama teman-temannya datang menunggu pengguna jasanya. Johan mengaku biasa mengerjakan segala macam galian, dari mulai menggali septic tank sampai menggali gorong-gorong.

Pekerjaan ini dinilainya tidak dapat memberikannya penghasilan yang rutin dan teratur. Lihat saja ini adalah hari ketiga belas. Saat wawancara ini bahkan hampir menyentuh malah. Artinya Johan akan segera menghadapi harinya yang ke 14 tanpa mempunyai uang dan pekerjaan.


Ia sangat mengerti bahwa pekerjaannya ini tidak menghasilkan uang secara teratur. Namun ia mengaku pernah mencoba berdagang, namun gagal. Ia mengaku tidak biasa melakukan perdagangan.

Di kampung halaman Johan, di Brebes, Jawa Tengah,  mempunyai 4 orang anak yang tinggal bersama istrinya.  Yang paling besar adalah Tarsan. Tarsan berumur 31. Johan bercerita jika anak pertamanya merantau ke Lampung dan menjadi pemecah batu disana. Anak-anaknya yang lain adalah Sakim, Wahid dan Sendi.

Johan tidak sempat lulus pendidikan dasar. begitupun juga anak-anaknya. Yang mempunyai pendidikan tertinggi adalah tarsan yang mendapat pendidikan sampai jenjang sekolah menengah pertama.

Johan berangkat dari Brebes sesuai dengan keinginannya sendiri. Dia berangkat bersama dengan teman-temannya dengan membawa peralatan utnuk menggali seperti palu, pacul dan *lupa namanya*.  Johan sebenarnya mempunyai sawah di Brebes. Namun sawah tersebut dinilainya hanya bisa dipakai untuk keperluan makan saja.

Johan berada di kampungnya hanya pada saat musim panen dan musim tanam untuk menggarap sawahnya. Jika sudah selesai menanam padi dia akan kembali lagi ke Jakarta untuk menjalani lagi pekerjaannya sebagai tukang gali.

Johan mengaku untuk sehari saja dia menghabiskan 20 ribu untuk makan, rokok dan kopi.
Johan mengatakan kalau mendapat borongan dari pengguna jasanya sehari saja dia bisa mendapatkan sampai 300 ribu rupiah. Namun itu hanya terjadi sekali sekali. Hal yang seperti itu dinilainya tidak terjadi terlalu sering. Apalagi kalau diingat ini adalah hari ketiga belas tanpa pekerjaan.

Jika tidak mempunyai uang untuk makan Johan mengaku selalu meminjam kepada orang yang dikenalnya. Untuk urusan kopi dan rokok dia juga akan berhutang kepada warung yang letaknya tidak jauh dari tempat dia tidur di kolong jembatan.

Johan mengaku jika dirinya mendapatkan pekerjaan hasilnya dikirimkannya ke kampung setengah dan setengah lagi untuk keperluannya di Jakarta. Pria yang sudah datang ke Jakarta semenjak tahun 85 ini mengaku hanya pekerjaan inilah yang dapat dia lakukan. Entah apa yang akan dilakukan oleh johan jika masih juga tak mendapatkan pekerjaan di hari-hari selanjutnya.