Sebuah nomor tak dikenal. Ketika saya angkat dia bertanya.
“Ini benar pak Alfin?” Tanya suara diseberang telepon.
“betul pak, maaf ini siapa ya?” Tanya saya heran.
“Betul bapak yang bikin berita di harian X halaman 7?” tanyanya lagi.
“Betul pak, memang ada sebagian tulisan saya,” ujar saya masih keheranan.
Saat itu yang ada di pikiran saya adalah saya melakukan kesalahan penulisan. Mungkin ada salah satu pihak yang tersinggung atas tulisan saya. Memang hanya itu yang ada di benak saya pada malam itu.
“Betul kan bapak yang menulis tentang pak Johan?” tanyanya lagi.
Pertanyaannya kali ini tak langsung sayaberi jawaban. Otak saya masih berfikir tentang tulisan saya yang menyinggung salah satu pihak. Setelah beberapa detik terjebak dalam diam saya mulai menangkap pertanyaan orang di seberang jaringan telepon tersebut. Dia menanyakan Johan. Kuli pacul yang tempo hari saya wawancarai. Kuli pacul yang sudah melewati hari ke 14 tanpa mendapatkan orang yang menggunakan jasanya.
“Oh iya pak, saya yang menulis itu,” ujar saya terhenti dari berbagai pikiran yang sebelunya muncul. Satu hal yang saya takutkan ketika menulis tentang mereka yang tidak punya tempat tinggal adalah tulisan tersebut dibaca pihak berwajib yang akan menertibkan mereka. Namun suara diseberang menenangkan saya.
“Begini pak, saya seharian ini sudah nyari-nyari pak Johan ditempat yang bapak tulis. Tapi ga ketemu juga pak. Saya sudah berputar-putar disekitar sana,” ujar suara disebelah sana setengah putus asa.
Saya menunjukkan arah yang saya tahu. Karena jujur, kemarin untuk pertama kalinya saya kesana. Itu arah yang diberikan teman saya yang prihatin melihat penderitaan mereka.
Saya tidak mengira akan ada seseorang pembaca yang akan memberikan perhatian terhadap tulisan saya, terhadap nasib Bapak Johan. Sebenarnya informasi yang saya berikan malam kemarin juga tidak terlalu lengkap malam kemarin kepada suara di seberang jaringan telepon sana.
Akhirnya saya berinisiatif mengirimkan beberapa foto pak Johan yang untungnya saya ambil. Malam itu sesampainya dirumah saya kirimkan foto tersebut ke suara diseberang jaringan telepon tadi. Harapan saya semoga mereka tidak salah untuk memilih orang.
Di pagi hari. Ada pesan bahwa email yang saya kirimkan kepada suara diseberang jaringan telepon tersebut tidak sampai. Suara diseberang telepon tersebut meminta saya mengirimkannya secepatnya. Karena sebentar lagi dia akan segera pergi kesana dan menemui pak Johan.
Tepat pukul 10 pagi ini saya kirim gambar pak Johan kepada suara diseberang jaringan telepon tadi malam dengan alamat email yang lain. Harap saya mudah-mudahan kali ini terkirim.
Ketika saya sedang mengendarai motor saya ke kantor ada getaran di handphone saya. Ternyata ada 2 panggilan tidak terjawab, dari nomornya, ini nomor dari orang diseberang jaringan telepon tadi malam.
Saya pinggirkan motor saya dan menelpon kembali, mungkin ada yang penting, mungkin foto pak Johan tidak juga sampai. Ketika telepon terhubung dengan suara diseberang jaringan telepon itu suaranya terdengar begitu bersemangat.
“Pak alfin, saya sudah bertemu dengan bapak Johan,” ujarnya.
“Alhamdulillah, bagus kalo begitu pak,” ujar saya.
“Terima kasih ya pak fotonya,” ujarnya.
“Iya sama-sama pak,”
“Jadi gini pak, bos saya kalau ada maunya harus kesampaian. Jadi kemarin saya mencari pak Johan ga ketemu, makanya saya tanya ke harian mas bapak lagi. Tadi saya sudah ketemu dengan pak Johan. Lalu saya bawa dia bertemu dengan bos saya. Malahan bapak boss sendiri yang tadi mengantarkan pak Johan kembali ke kolong,” ujarnya.
“Makasih ya pak alfin udah menulis tentang pak Johan. Pak johan sudah diberi bantuan oleh boss saya sebesar *menyebutkan nominal yang jumlahnya beberapa kali gaji saya*,”
Disini sudah tidak penting lagi perasaan saya diceritakan :D Usaha pak Johan yang menunggu hampir sebulan tidak mendapat pekerjaan membuahkan hasil. Tadinya Johan hanya 300 ribu dan harus dikirim setengahnya ke keluarganya di kampung. Kini dia bisa mengirim lebih banyak uang untuk anak-anak dan istrinya dikampung.
Rezeki itu memang sudah diatur. Bagi Johan, rezeki itu datang dari ide redaktur berangkat ke pertanyaan di twitter turun ke jalan, diolah lagi oleh editor sampai kepada pembaca dan akhirnya Johan sudah tidak terlalu memperdulikan deritanya setelah 14 hari dimana dia tak kunjung mendapatkan pemakai tenaganya.
Terima Kasih Semua
Ini gambar pak Johan :)

