Johan
tinggal di kolong jembatan di depan salah satu universitas swasta
terkemuka di jakarta. Johan bekerja sebagai tukang gali. Ia menjajakan
jasanya dengan mangkal setiap hari di pinggiran jalan menuju Tomang
tersebut. Setiap hari dia menunggu orang yang akan memberinya pekerjaan
lewat di jalan itu.
Kemarin dalah hari ketiga belas dia menunggu
pekerjaan yang tidak kunjung datang. Setiap hari dari pagi sampai sore
Johan bersama teman-temannya datang menunggu pengguna jasanya. Johan
mengaku biasa mengerjakan segala macam
galian, dari mulai menggali septic tank sampai menggali gorong-gorong.
Pekerjaan ini dinilainya tidak dapat memberikannya penghasilan yang
rutin dan teratur. Lihat saja ini adalah hari ketiga belas. Saat
wawancara ini bahkan hampir menyentuh malah. Artinya Johan
akan segera menghadapi harinya yang ke 14 tanpa mempunyai uang dan
pekerjaan.
Ia sangat mengerti bahwa pekerjaannya ini tidak
menghasilkan uang secara teratur. Namun ia mengaku pernah mencoba
berdagang, namun gagal. Ia mengaku tidak biasa melakukan perdagangan.
Di
kampung halaman Johan, di Brebes, Jawa Tengah, mempunyai 4 orang anak
yang tinggal bersama istrinya. Yang paling besar adalah Tarsan. Tarsan
berumur 31. Johan bercerita jika anak pertamanya merantau ke Lampung dan
menjadi pemecah batu disana. Anak-anaknya yang lain adalah Sakim, Wahid
dan Sendi.
Johan tidak sempat lulus pendidikan dasar. begitupun juga
anak-anaknya. Yang mempunyai pendidikan tertinggi adalah tarsan yang
mendapat pendidikan sampai jenjang sekolah menengah pertama.
Johan
berangkat dari Brebes sesuai dengan keinginannya sendiri. Dia berangkat
bersama dengan teman-temannya dengan membawa peralatan utnuk menggali
seperti palu, pacul dan *lupa
namanya*. Johan sebenarnya mempunyai sawah di Brebes. Namun sawah
tersebut dinilainya hanya bisa dipakai untuk keperluan makan saja.
Johan
berada di kampungnya hanya pada saat musim panen dan musim tanam untuk
menggarap sawahnya. Jika sudah selesai menanam padi dia akan kembali
lagi ke Jakarta untuk menjalani lagi pekerjaannya sebagai tukang gali.
Johan mengaku untuk sehari saja dia menghabiskan 20 ribu untuk makan, rokok dan kopi.
Johan mengatakan kalau mendapat borongan dari pengguna jasanya sehari saja dia
bisa mendapatkan sampai 300 ribu rupiah. Namun itu hanya terjadi sekali
sekali. Hal yang seperti itu dinilainya tidak terjadi terlalu sering.
Apalagi kalau diingat ini adalah hari ketiga belas tanpa pekerjaan.
Jika
tidak mempunyai uang untuk makan Johan mengaku selalu meminjam kepada
orang yang dikenalnya. Untuk urusan kopi dan rokok dia juga akan
berhutang kepada warung yang letaknya tidak jauh dari tempat dia tidur
di kolong
jembatan.
Johan mengaku jika dirinya mendapatkan pekerjaan hasilnya
dikirimkannya ke kampung setengah dan setengah lagi untuk keperluannya
di Jakarta. Pria yang sudah datang ke Jakarta semenjak tahun 85 ini
mengaku hanya pekerjaan inilah yang dapat dia lakukan. Entah apa yang akan dilakukan oleh johan jika masih juga tak mendapatkan pekerjaan di hari-hari selanjutnya.
Bang Jo, semangat ya, Bang! Anak-istri abang pasti mendukung abang! amin.
BalasHapus