Jumat, 12 Juli 2013

Jika puasa latihan menahan diri, itu ada dimana?

Sebentar lagi ramadan. Ayeee. <--- Karna ditulis sebelum puasa. Males edit jadi kasih komentar tambahan aja :|

Akhirnya Ramadan datang lagi. Bulan yang katanya penuh ampunan dan juga rizki yang berlimpah. Tapi sebagai konsekuensinya umat diajak untuk bisa menahan nafsu, amarah, syahwat, pokoknya semua yang negatif. 

Di bulan ini juga umat dididik untuk bisa merasakan penderitaan dari si miskin yang selama ini kesulitan untuk makan. Dengan adanya puasa maka diharapkan kita bisa lebih toleran dan dermawan dengan sesama kita. 

Jadi kurang lebih seperti itulah Ramadan. Dengan begitu banyak nilai positif didalamnya tentu akan menjadi kegembiraan bagi mereka yang benar-benar merayakannya. Pahala amalan wajib dilipatgandakan, pahala sunnah dijadikan seperti wajib. Super. 

Namun tampaknya ada anomali antara yang terjadi di lapangan dengan apa yang diperintahkan. Orang beramai-ramai puasa bukan untuk merasakan penderitaan orang miskin. Kenapa? Karena kita tahu waktu buka puasa hidangan yang kita makan akan luar biasa nikmatnya.

Tau darimana?

Coba jalan-jalan ke Bendungan Hilir atau lokasi lain tempat orang menjajakan takjil. Lihat disana. Pedagang takjil mendapatkan penghasilan yang luar biasa dalam satu bulan. Bahkan banyak dari mereka yang memang dadakan jadi pedagang untuk bisa meraup pundi-pundi uang di bulan suci ini. 

Rezeki kah itu? Atau sekadar memanfaatkan momen untuk mendapatkan pemasukan lebih banyak dibulan menahan nafsu?

Mungkin memanfaatkan momen untuk meraih rezeki :)  jangan suudzon ah Alfin. Puasa itu kan menahan nafsu yang jelek. Kalo mencari rezeki kan enggak walaupun si artis siang sore subuh malem ada di acara tipi. #eh

Baiklah tak usah ditilik dari pedagang. Kita beralih ketempat lain yang memang sudah jelas dilarang. Yakni ranah makanan. 

Kita dilarang makan saat bulan puasa toh. Menahan lapar selama 12 jam. Tapi kenapa konsumsi daging dan bahan pangan lainnya meningkat?

Tahun lalu bahkan di Manado dilaporkan oleh dinas peternakan setempat konsumsi daging sapi meningkat 300 persen. 300 persen?????

Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) juga melansir hal yang sama. Untuk panganan dan minuman olahan juga ada kenaikan hingga 50 persen konsumsi. Bahkan untuk biskuit dan sirup kenaikannya bisa lebih dari dua kali lipat. Para pengusaha ini sudah tau siklusnya. Menjelang lebaran kapasitas produksi diperbesar. Mereka tahu jika puasa adalah bulan menahan nafsu, tapi lebaran adalah mengumbar semua nafsu.

Sebelum masuk ke lebaran masih ada satu sektor lagi yang mau dibahas. Pakaian. Mungkin ga ada imbauan untuk menahan nafsu belanja di bulan puasa membuat orang bisa khilaf mata di bulan puasa apalagi menjelang lebaran. 

Saat bulan puasa kita disuruh merasakan penderitaan si miskin tapi saat lebaran kita langsung membuat jarak setinggi langit dengan mereka. Semua orang berbelanja. Ambil benchmark Tanah Abang. Surga belanja pakaian. Semua ada disana dari mulai burqa sampai miniset #eh :| 

Tiap tahun pasti ada aja tugas untuk ngecek ke Tenabang berapa omzet mereka dan berapa peningkatannya. Rata-rata semuanya naik penjualannya hingga dua kali lipat di pertengahan Ramadhan. Kebanyakan pembelian itu permintaan dari daerah. Jadi belinya biasanya satu karung. Menjelang lebaran biasanya pembeli lebih banyak yang datang, tapi hanya membeli satuan. Jadi omzet lebih kecil daripada pertengahan. 

Kalau kata salah seorang pemilik toko sih menjelang akhir itu "rame doang yang mondar-mandir, tapi kebanyakan liat-liat aja, beli mah enggak," katanya. 

Tapi ada satu jenis baju yang dijual salah satu pedagang yang ga laku. Batik.......

Entah kenapa, dia juga ga tau alesannya apa. Tapi setiap pedagang batik yang gw tanya "naik berapa bu omzet bulan puasa?" Jawabannya "Apaan yang naik, ini aja udah jam 12 belom ada yang laku," katanya.

Masalah lainnya. Masalah buka puasa bersama. 

Kalo lw udah kerja bakalan ada buka puasa bareng temen SMA, SD, TK, MTS, Kuliah, Fakultas, KPM, Hima, PKL, PMS, PSMS (tau ini apa artinya).................

Coba diitung, berapa kali buka puasa bareng selama Ramadan. Berapa pengeluarannya. Pengalaman saya sewaktu kuliah puasa itu memang menghemat biaya hidup. Toh siang ga makan. 

Tapi begitu buka puasa, biaya hidup membengkak. Hahahaha. Semuanya dibeli. Coba kita bedah satu-satu. Kalau hari biasa kita cukup makan sama minum aja ya anggap nasi goreng sama es teh manis. 

Coba jujur sama diri sendiri. Buka puasa kita butuh apa aja? Pertama es buah, lalu cemilan semacam gorengan kayak pisang goreng, tahu isi, tempe dan kawan kawan. Itu belum dihitung main course nya. Lalu abis main coursenya pasti ada embel-embel masih laper dan pengen makan buah-buahan.  

Ya semua itu benar, soalnya kan abis menahan lapar seharian:p

Satu fakta yang paling gamblang keliatan di beberapa berita harga pangan pokok di semua media massa. Harga cabe rawit sampe 100 ribu. 100 ribu!!! Menteri kerjanya apa sih ini. Cabe merah biasa 80 ribu. 

Daging 80 ribu sampe 100 ribu. Daging ayam bahkan sempet 50 ribu. Dan mentrinya masih pada tenang-tenang aja. 

Kita balik lagi ke persoalan puasa. Hahaha. Yang itu jangan dibahas di blog. 

Iyak,  jadi kenaikan harga itu ada beberapa penyebabnya seperti yang kita tau dari SMP. Penyebab pertamanya pasokan yang sedikit. Itu terjadi sama cabe rawit. Tapi buat ayam? Sapi? Cabe merah? Bawang yang sekarang lagi panen raya?

Sisanya naik karena yang kedua. Permintaan tinggi. Jadi harga naik di bulan puasa emang dianggap wajar. 

Dari semua contoh itu dimana letak puasa itu menahan diri?

Ya mungkin ada beberapa contoh lagi yang banyak terjadi dilapangan. Tapi cukup lah kayaknya buat melihat bulannya dimana semua diharuskan menahan diri tapi berubah hanya menahan lapar. 

Ini hanya satu persepsi yang diangkat. Tidak mungkin semua orang seperti ini. Tidak mungkin juga tidak ada orang yang seperti ini. Karna keberadaan orang seperti inilah tulisan ini tercipta. Tsaaah. Hahaha. 

Mohon maaf ya kalau ada salah-salah kata om tante. Baru masuk bulan puasa udah bikin kesel orang lagi. Hahaha. 




In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.

-- Brian Massumi

Kamis, 13 Juni 2013

Cinta Dewasa?

Cinta secara dewasa?



Apa itu?

Lalu ada cinta kekanak-kanakan?

Pemikiran ini udah lama muncul tapi belum sempat diabadikan dalam bentuk tulisan. Belum sempat juga dipublikasikan baik lisan ataupun tu TETOTTTT 

*mengulang kata tulisan* 

:| :| :| 


Sebetulnya gw juga ga tau entah kenapa post ini kepikiran untuk ditulis. ga ngerti juga kenapa tiba-tiba ide ini muncul. Mungkin ini tulisan pertama bertema cinta di blog ini. hahahaha

silakan dinikmati kawan :)

Dulu sempet mikir kenapa cinta yang dirasakan sama orang tua ke anak berbeda dengan cinta kita ke pasangan? Cinta dari orang tua ke anak itu lembut sedangkan cinta ke pasangan itu penuh birahi dan menggebu-gebu. 

Sempat ada satu akun di twitter membahas ini juga. Ia bilang yang ada pada pasangan itu bukanlah cinta, tapi romansa. 

tapi menurut saya cinta antara ibu dan anak adalah cintah yang sama dengan cinta anda kepada pasangan anda. Saya, dalam tulisan ini, mencoba berfikir melebihi usia dan pengalaman saya selama ini. Mungkin bisa benar, mungkin bisa salah. Tapi toh kalau salah tak mengapa, toh masih muda.  hahahaha

Lalu apa yang membedakan kedua cinta yang memang beda tapi sama itu? Sesuai judul. Dewasa. 

Cinta yang masih muda, baru, dan hijau ini punya ciri-ciri tertentu. Cinta hijau ini cenderung menggebu-gebu, berapi-api. Tsaaaaah. 

Coba lihat pasangan yang baru meresmikan hubungannya. Baru satu jam abis ketemu selama 6 jam udah ngerasa kangen lagi. Hadoooh. Ngaku lw semua!!!




Di fase kekanak-kanakan ini rasanya pengen ada di sisi pasangan selalu, baik saat terik ataupun hujan, siang ataupun malam, kenyang ataupun kebelet ee. 

Di masa ini cinta kita begitu berapi-api. Masalah mantan sama cewe atau cowo lain yang deket itu bisa jadi perkara berat. Masa ini adalah masa saling curiga mencurigai satu sama lain. Ibarat kucing satu sama lain baru ngendus-ngendus bau pasangannya. 

Semua pasangan itu saling curiga. Cuma bedanya ada yang diungkapkan secara langsung ada yang ngorek-ngorek info ke temennya, ada yang liat-liat jejaring sosial dan ada yang ngelakuin semuanya sekaligus. Yang ngelakuin sekaligus ini dibagi dua juga, pertama yang bilang-bilang kedua yang diem-diem aja seolah-olah ga ada masalah. 

Apa cinta kenanak-kanakan itu cuma ada di pasangan aja?

Ga juga. Coba liat hubungan antara anak dengan ayah atau ibu. Masa-masa awal adalah masa paling emosional. Masa dimana ga bisa pisah sama anak barang semenit. 

Sama kayak ayah, cinta untuk sang anak masih menggebu-gebu. Segera pengen pulang dari tempat kerja dan ketemu sang anak. 

Pada masa kekanak-kanakan ini salah satu pihak masih belum yakin jika jalinan yang mereka rasakan adalah hal yang sama. Sang ibu belum yakin jika sang anak tau apa yang ia rasakan dan juga belum tau apa yang dirasakan anaknya kepadanya. 

Pasangan muda-mudi pun sama-sama belum tau apakah betul pasangan mereka benar merasakan sama apa yang mereka rasakan. 

Namun seperti umur dan pemikiran yang berubah, begitu juga cinta. Seiring perjalanan akan terbukti bagaimana cinta itu. Sang ibu atau ayah sudah yakin jika sang anak mencintai mereka dna merasakan hal yang sama. Begitu juga pasangan. Sudah tidak ada rasa saling mencurigai memang terlalubanyak tau tentang pasangannya. 

Di fase dewasa ini cinta akan semakin landai. Tidak ada intrik-intrik yang melanda seperti cinta yang muda. Sang orang tua sudah tau jika sang anak mengerti jika itu adalah orang tua mereka. Begitu juga pasangan, mereka saling mengerti jika aku adalah miliknya. 

Di masa ini cenderung membosankan. Mungkin tidak akan ada kata-kata aku mencintaimu yang dulu diucapkan menggebu-gebu ketika cinta itu masih muda. 

Berapa sering orang tua mengutarakan cinta kepada anak bayinya? Setiap hari, bahkan tiap bertemu. Tapi ketika cinta itu dewasa, seberapa sering kata itu diucapkan? Tentu semua orang punya jawabanya. 

Begitu pula dengan pasangan. Pasangan yang sudah berumur puluhan tahun berapa kali mengungkapkan cintanya kepada pasangannya?

Di fase ini, cinta bukan lagi sekadar untuk diungkapkan dan diyakinkan  tapi dijalankan. 

Apa perlu lagi kata cinta diucapkan jika setiap hari kamu memasak untuk orang yang kau cintai, mengurusi pasanganmu dan mencari nafkah untuk mereka. 

Di tingkat kedewasaan ini adalah tingkat dimana kepercayaanmu kepada pasanganmu sudah tak tergoyahkan (*kecuali memang ga pantes dipercaya). Tapi di tahap ini gejala insekuritas terhadap pasangan turun drastis karena semua yang telah dilewati bersama. Perasaan cinta yang dulu menggelora juga seolah-olah hilang. Padahal selama ini kita telah menjalankan cinta, bukan hanya mengatakannya. 



Maaf ah kalau sudah terlalu sok tau, ini adalah opini pribadi, jika ada pihak yang tersinggung atau mirip dalam cerita mungkin hanya kebetulan belaka atau memang sengaja dibuat kebetulan. Trims


In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.

-- Brian Massumi



Rabu, 15 Mei 2013

Kerja Di Media Menurut Anu




Cerita ini terjadi suatu hari di bis. Bukan menguping pembicaraan antara si Anu dan si Itu, tapi terdengar dengan jelas padahal pembicaraan kedua orang ini ada 2 bangku di bis. 

Anggap saya duduk di bangku baris 13 bangku kedua dan si Anu duduk di baris 11 bangku 5 dan si Itu duduk di baris 12 Bangku ke 4.

Oiya, itungan bangkunya mayasari itu 1-2 lalu kepisah jalan lalu baru bangku 3-4-5 dihitung dari kiri ke kanan.

Sejauh ini mungkin udah bisa dibayangkan kenapa saya bisa mendengar pembicaraan mereka. IYA SOALNYA DUDUKNYA DEPAN BELAKANG BUKAN KIRI KANAN !!

Dan sampe sekarang pun masih heran hasrat ngobrol setinggi apa sampe yang bikin itu dua olang ngotot ngobrol K 

Percakapannya akan langsung gw tulis tanya jawab tanya jawab aja. Ini berdasarkan ingatan dan ketikan cepet gw aja atas pembicaraan mereka. INI PERCAKAPAN GA PENTING AMPE GW TIKPET LOH !!!

Oiya, gw juga ga sadar pembicaraan mereka pas awal-awal. Baru ngerasa pas gw lagi mau ngetik dan keganggu. Brengsky emang di bis kenceng-kenceng ngobrolnya.

Tapi gpp, paling ga gara-gara si Anu dan si Itu gw jadi bisa nulis blog. Hahaha

Itu :Eh lw ga jadi keluar ? waktu itu katanya mau keluar pas gw ajakin kerja di radio

Anu : Ga ah, enak kerja sekarang, di media bisa deket sama pejabat-pejabat.

*Disini kuping yang sensitif ini langsung memusatkan pendengaran ke pembicaraan si Anu dan si Itu*

Anu : Iya kemaren aja pas musrenbang Bekasi, wah disana itu semua pejabat kumpul, enak deh. Makanya gw seneng di kerjaan yang sekarang ini

Itu : Emang siapa aja yang hadir ?

Anu :Ada pak pepen, ada wakilnya, ada *selanjutnya adalah nama-nama jabatan yang ga bisa gw identifikasi terkait keterbatasan IQ*

Anu melanjutkan omongannya.
Dia posisinya di depan, dan harus nengok kebelakang sambil ngomong ama Itu. Coba kalo gw yang duduk sebelahnya Anu, gw keplakin gara-gara berisik K

Anu : iya waktu acara itu aja dikasih pak Pepen 200, trus dikasih pak wakil 100, dikasih itu 100, kayaknya gw dapet sehari itu 500.

Itu : dapet apaan?

Anu : iya dikasih duit. Itu diluar gaji yah.

Itu : Gaji lw berapa emang sih disana?

Anu : mmmmmmhhh, lumayan lah.

Itu : Lw akrab ya sama pak Pepen?

Anu : Akrab kok, kalo sabtu minggu kadang-kadang anak-anak suka kerumahnya main-main.

Itu : Itu emang suka ngasih duit gitu aja?

Anu : Iya, gw juga kalau lagi ga punya duit minta ke dia. Waktu itu gw bilang gini, pak lagi ga punya uang nih buat ongkos, anak-anak juga ga ada. Eh langsung dia suruh ajudannya ambil uang di mobil gini katanya “kamu urusin mereka nih lagi ga pada punya uang,” gitu. Akhirnya kita dikasih den 200 ribu seorang.

Itu : ioya? Enak dong ya

Anu : Iya, kita juga kalau lagi ga punya duit main aja kerumahnya. 

Itu : Hari biasa gitu ?

Anu : Ya enggak lah, hari sabtu minggu pas beliau ada dirumah. Kalau hari biasa kan dia mengayomi rakyatnya.

Itu : trus kalo main kerumahnya ngapain aja ?

Anu: Ngobrol-ngobrol aja ama anak-anak kan rame-rame kesananya. Trus nanti pulangnya dikasih deh sejuta satu orang.

*lalu dia beberapa saat, mungkin kehabisan bahan obrolan*

*lalu tiba-tiba si Anu memamerkan BB nya kepada si Itu yang duduk dibelakangnya*

Itu : ini mantan menteri itu kan ya?

Anu : Iya, menteri olaharaga. 

Itu : kok bisa punya BBM nya?

Anu : Waktu itu kan gw wawancara sama dia, trus pulangnya gw dikasih duit Gope deh sama dia.

Itu : Ooooooooh gitu

Anu : Iya enak kalau wawancara orang kayak gitu. Tapi paling males mah kalo wawancara kapolsek. Ga ada duitnya. Males gw kalo wawancara kayak gitu mah.

Itu : ga ada duitnya gimana?

Anu : iya kalau kapolsek mah paling 50 doang, paling banter 100. Kalau Kapolres lumayan lah.

*pembicaraan terhenti karena udah sampe Komdak dan penumpang pada turun*

*Sekian*