Kamis, 13 Juni 2013

Cinta Dewasa?

Cinta secara dewasa?



Apa itu?

Lalu ada cinta kekanak-kanakan?

Pemikiran ini udah lama muncul tapi belum sempat diabadikan dalam bentuk tulisan. Belum sempat juga dipublikasikan baik lisan ataupun tu TETOTTTT 

*mengulang kata tulisan* 

:| :| :| 


Sebetulnya gw juga ga tau entah kenapa post ini kepikiran untuk ditulis. ga ngerti juga kenapa tiba-tiba ide ini muncul. Mungkin ini tulisan pertama bertema cinta di blog ini. hahahaha

silakan dinikmati kawan :)

Dulu sempet mikir kenapa cinta yang dirasakan sama orang tua ke anak berbeda dengan cinta kita ke pasangan? Cinta dari orang tua ke anak itu lembut sedangkan cinta ke pasangan itu penuh birahi dan menggebu-gebu. 

Sempat ada satu akun di twitter membahas ini juga. Ia bilang yang ada pada pasangan itu bukanlah cinta, tapi romansa. 

tapi menurut saya cinta antara ibu dan anak adalah cintah yang sama dengan cinta anda kepada pasangan anda. Saya, dalam tulisan ini, mencoba berfikir melebihi usia dan pengalaman saya selama ini. Mungkin bisa benar, mungkin bisa salah. Tapi toh kalau salah tak mengapa, toh masih muda.  hahahaha

Lalu apa yang membedakan kedua cinta yang memang beda tapi sama itu? Sesuai judul. Dewasa. 

Cinta yang masih muda, baru, dan hijau ini punya ciri-ciri tertentu. Cinta hijau ini cenderung menggebu-gebu, berapi-api. Tsaaaaah. 

Coba lihat pasangan yang baru meresmikan hubungannya. Baru satu jam abis ketemu selama 6 jam udah ngerasa kangen lagi. Hadoooh. Ngaku lw semua!!!




Di fase kekanak-kanakan ini rasanya pengen ada di sisi pasangan selalu, baik saat terik ataupun hujan, siang ataupun malam, kenyang ataupun kebelet ee. 

Di masa ini cinta kita begitu berapi-api. Masalah mantan sama cewe atau cowo lain yang deket itu bisa jadi perkara berat. Masa ini adalah masa saling curiga mencurigai satu sama lain. Ibarat kucing satu sama lain baru ngendus-ngendus bau pasangannya. 

Semua pasangan itu saling curiga. Cuma bedanya ada yang diungkapkan secara langsung ada yang ngorek-ngorek info ke temennya, ada yang liat-liat jejaring sosial dan ada yang ngelakuin semuanya sekaligus. Yang ngelakuin sekaligus ini dibagi dua juga, pertama yang bilang-bilang kedua yang diem-diem aja seolah-olah ga ada masalah. 

Apa cinta kenanak-kanakan itu cuma ada di pasangan aja?

Ga juga. Coba liat hubungan antara anak dengan ayah atau ibu. Masa-masa awal adalah masa paling emosional. Masa dimana ga bisa pisah sama anak barang semenit. 

Sama kayak ayah, cinta untuk sang anak masih menggebu-gebu. Segera pengen pulang dari tempat kerja dan ketemu sang anak. 

Pada masa kekanak-kanakan ini salah satu pihak masih belum yakin jika jalinan yang mereka rasakan adalah hal yang sama. Sang ibu belum yakin jika sang anak tau apa yang ia rasakan dan juga belum tau apa yang dirasakan anaknya kepadanya. 

Pasangan muda-mudi pun sama-sama belum tau apakah betul pasangan mereka benar merasakan sama apa yang mereka rasakan. 

Namun seperti umur dan pemikiran yang berubah, begitu juga cinta. Seiring perjalanan akan terbukti bagaimana cinta itu. Sang ibu atau ayah sudah yakin jika sang anak mencintai mereka dna merasakan hal yang sama. Begitu juga pasangan. Sudah tidak ada rasa saling mencurigai memang terlalubanyak tau tentang pasangannya. 

Di fase dewasa ini cinta akan semakin landai. Tidak ada intrik-intrik yang melanda seperti cinta yang muda. Sang orang tua sudah tau jika sang anak mengerti jika itu adalah orang tua mereka. Begitu juga pasangan, mereka saling mengerti jika aku adalah miliknya. 

Di masa ini cenderung membosankan. Mungkin tidak akan ada kata-kata aku mencintaimu yang dulu diucapkan menggebu-gebu ketika cinta itu masih muda. 

Berapa sering orang tua mengutarakan cinta kepada anak bayinya? Setiap hari, bahkan tiap bertemu. Tapi ketika cinta itu dewasa, seberapa sering kata itu diucapkan? Tentu semua orang punya jawabanya. 

Begitu pula dengan pasangan. Pasangan yang sudah berumur puluhan tahun berapa kali mengungkapkan cintanya kepada pasangannya?

Di fase ini, cinta bukan lagi sekadar untuk diungkapkan dan diyakinkan  tapi dijalankan. 

Apa perlu lagi kata cinta diucapkan jika setiap hari kamu memasak untuk orang yang kau cintai, mengurusi pasanganmu dan mencari nafkah untuk mereka. 

Di tingkat kedewasaan ini adalah tingkat dimana kepercayaanmu kepada pasanganmu sudah tak tergoyahkan (*kecuali memang ga pantes dipercaya). Tapi di tahap ini gejala insekuritas terhadap pasangan turun drastis karena semua yang telah dilewati bersama. Perasaan cinta yang dulu menggelora juga seolah-olah hilang. Padahal selama ini kita telah menjalankan cinta, bukan hanya mengatakannya. 



Maaf ah kalau sudah terlalu sok tau, ini adalah opini pribadi, jika ada pihak yang tersinggung atau mirip dalam cerita mungkin hanya kebetulan belaka atau memang sengaja dibuat kebetulan. Trims


In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.

-- Brian Massumi



1 komentar: