Selasa, 17 Januari 2012

Kisah Tentang Johan, sang tukang pacul

Johan tinggal di kolong jembatan di depan  salah satu universitas swasta terkemuka di jakarta. Johan bekerja sebagai tukang gali. Ia menjajakan jasanya dengan mangkal setiap hari di pinggiran jalan menuju Tomang tersebut. Setiap hari dia menunggu orang yang akan memberinya pekerjaan lewat di jalan itu.

Kemarin dalah hari ketiga belas dia menunggu pekerjaan yang tidak kunjung datang. Setiap hari dari pagi sampai sore Johan bersama teman-temannya datang menunggu pengguna jasanya. Johan mengaku biasa mengerjakan segala macam galian, dari mulai menggali septic tank sampai menggali gorong-gorong.

Pekerjaan ini dinilainya tidak dapat memberikannya penghasilan yang rutin dan teratur. Lihat saja ini adalah hari ketiga belas. Saat wawancara ini bahkan hampir menyentuh malah. Artinya Johan akan segera menghadapi harinya yang ke 14 tanpa mempunyai uang dan pekerjaan.


Ia sangat mengerti bahwa pekerjaannya ini tidak menghasilkan uang secara teratur. Namun ia mengaku pernah mencoba berdagang, namun gagal. Ia mengaku tidak biasa melakukan perdagangan.

Di kampung halaman Johan, di Brebes, Jawa Tengah,  mempunyai 4 orang anak yang tinggal bersama istrinya.  Yang paling besar adalah Tarsan. Tarsan berumur 31. Johan bercerita jika anak pertamanya merantau ke Lampung dan menjadi pemecah batu disana. Anak-anaknya yang lain adalah Sakim, Wahid dan Sendi.

Johan tidak sempat lulus pendidikan dasar. begitupun juga anak-anaknya. Yang mempunyai pendidikan tertinggi adalah tarsan yang mendapat pendidikan sampai jenjang sekolah menengah pertama.

Johan berangkat dari Brebes sesuai dengan keinginannya sendiri. Dia berangkat bersama dengan teman-temannya dengan membawa peralatan utnuk menggali seperti palu, pacul dan *lupa namanya*.  Johan sebenarnya mempunyai sawah di Brebes. Namun sawah tersebut dinilainya hanya bisa dipakai untuk keperluan makan saja.

Johan berada di kampungnya hanya pada saat musim panen dan musim tanam untuk menggarap sawahnya. Jika sudah selesai menanam padi dia akan kembali lagi ke Jakarta untuk menjalani lagi pekerjaannya sebagai tukang gali.

Johan mengaku untuk sehari saja dia menghabiskan 20 ribu untuk makan, rokok dan kopi.
Johan mengatakan kalau mendapat borongan dari pengguna jasanya sehari saja dia bisa mendapatkan sampai 300 ribu rupiah. Namun itu hanya terjadi sekali sekali. Hal yang seperti itu dinilainya tidak terjadi terlalu sering. Apalagi kalau diingat ini adalah hari ketiga belas tanpa pekerjaan.

Jika tidak mempunyai uang untuk makan Johan mengaku selalu meminjam kepada orang yang dikenalnya. Untuk urusan kopi dan rokok dia juga akan berhutang kepada warung yang letaknya tidak jauh dari tempat dia tidur di kolong jembatan.

Johan mengaku jika dirinya mendapatkan pekerjaan hasilnya dikirimkannya ke kampung setengah dan setengah lagi untuk keperluannya di Jakarta. Pria yang sudah datang ke Jakarta semenjak tahun 85 ini mengaku hanya pekerjaan inilah yang dapat dia lakukan. Entah apa yang akan dilakukan oleh johan jika masih juga tak mendapatkan pekerjaan di hari-hari selanjutnya.

1 komentar:

  1. Bang Jo, semangat ya, Bang! Anak-istri abang pasti mendukung abang! amin.

    BalasHapus