Sabtu, 28 April 2012

Menulis Untuk Diri Sendiri



Ide ini terbesit pertama kali ketika pacar saya (terpaksa disebut) agak marah, atau marah, atau mungkin marah sekali ketika saya bales sms dia dengan singkat-singkat. Situasi saat itu emang lagi kerja. Balesan dari pacar saya ini adalah "Itu ngetweet bisa,". Tetooot #kemudianhening

Jujur itu bikin saya terus mikir. "Oiya ya, kenapa ya? kenapa ngetweet itu lebih penting daripada bales sms pacar saya," (tuh kan kesebut lagi). Karena jujur waktu kerja emang ngetweet itu lebih semangat daripada bales sms dari...............dia ( pake kata ganti biar ga dibilang sombong punya pacar :| ).

Baiklah, sampe sini mau nanya. "Ada yang merasakan hal yang serupa? Entah di posisi saya atau...........dia.

Entah kenapa saya masih terus penasaran kenapa bisa sampe saya merasa kayak gitu. setelah berlalu sekitar sebulan, dua bulan, tiga bulan akhirnya semua lupa dan ga dibahas lagi. The End.



Loh?

kok udahan.

Baiklah, kita lanjut. Ternyata setelah saya piirkan matang-matang permasalahannya ada pada. "Untuk siapa saya menulis". Itu kesimpulan saya yang sangat sederhana.

Lalu apaan itu untuk siapa saya menulis?

Gini, kita balik ke fakta kalau manusia itu adalah makhluk sosial. Ga ada yang bantah soal ini. Oke, manusia sebagai makhluk sosial kita simpen.

Selanjutnya kita beranjak ke alasan kenapa twitter bisa sukses sampai kayak sekarang. Apa karna promosi? Banyak artisnya? Bisa update status walau cuma 140 karakter tapi buat yang ngotot nulis panjang dan ga mau pindah ke Facebook bisa pake twitlonger, atau apa ya.

Kalau dulu saya suka mikir kalau twitter itu adalah semacam ruangan besar. Sebut aja kelas. Coba dibayangin, dalam satu kelas itu kita bisa ngatur siapa aja yang ada dalam kelas itu. Enak kan? Kita bisa seenaknya memasukkan orang kedalam kelas kita untuk kita dengar apa pendapatnya. Kalau ga suka dengan omongan orangnya? ya gampang, unfollow aja, keluarin aja dari kelas, selesai perkara.

Liat kan betapa hebatnya twitter. Tanpa mesti nunggu untuk orang konfirmasi untuk bilang "Mau masuk dalem kesal gw ga?".
*nb: kecuali kalo akunya digembok ya

Kembali lagi ke kelas. Dalam kelas ini kita bisa seenaknya masukin orang yang jago banyol, temen sekolah, temen SMP, temen SMA, temen kuliah, orang yang minta follback*, akun resmi event, klub bola, bulutangkis, sampe bot pun bisa kita msukin. Itu semua terserah mau kita.

NAAAH, trus korelasinya dimana? Sama makhluk sosial itu?

Ini definisi arti kata "sosial" dari KKBI yang bisa diakses di KBBI kalau males buka Google dan search KBBI online.

so·si·al a 1 berkenaan dng masyarakat: perlu adanya komunikasi -- dl usaha menunjang pembangunan ini; 2 cak suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dsb): ia sangat terkenal dan -- pula; ke·so·si·al·an n sifat-sifat kemasyarakatan (sifat suka memperhatikan umum, suka menolong, dsb): krn perasaan -- nya, beliau selalu disukai orang dl pergaulan

Intinya, sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan yang namanya Komunikasi, artinya ada di bawah ini daripada nanti dibilang sok tau tentang komunikasi :D

ko·mu·ni·ka·si n 1 pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yg dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak; 2 perhubungan;
-- dua arah komunikasi yg komunikan dan komunikatornya dl satu saat bergantian memberikan informasi; -- formal komunikasi yg memperhitungkan tingkat ketepatan, keringkasan, dan kecepatan komunikasi; -- massa Kom penyebaran informasi yg dilakukan oleh suatu kelompok sosial tertentu kpd pendengar atau khalayak yg heterogen serta tersebar di mana-mana; -- sosial komunikasi antarkelompok sosial dl masyarakat;
ber·ko·mu·ni·ka·si v mengadakan komunikasi; berhubungan;

Bisa dibilang begini hubungannya Makhluk Sosial > Butuh Komunikasi > Butuh Mendengar > Butuh Didengar

Dari uraian ngaco diatas lalu apa hubungannya sama kelas? sosial? tweet? bales SMS? nah loh......... :| :| :| :| :| :| :| :| :|

Sebenernya bukan di kelas itu yang bikin saya jadi lebih senang bikin sebuah kicauan di twitter daripada harus membalas sms dia. :)) *hampir menyebutkan kata pacar lagi*

Yang bikin ngetweet itu menyenangkan mungkin adalah Perasaan dimana kita itu didengarkan.  Ya didengarkan. Manusia sebagai makhluk sosial butuh untuk didengarkan disamping mendengarkan. Disamping mempunyai kelas yang bisa kita isi dengan orang yang kita mau saja, kita juga bisa masuk ke dalam kelas-kelas orang lain untuk didengarkan.

Caranya? ya masih seperti yang tadi, ada orang lain yang menganggap kita lucu, aneh, menyedihkan, teman, sahabat, teman SMP, teman SMA, teman kuliah dan yang kita bilangin Follbek dong kaka :| :| :| :|

Ya, paling ga dibalik semua itu kita jadi tau kalau kita didengarkan. Didengarkan ini rupanya membuat kita menjadi emrasa berharga. Oleh karena itu saat mendesak pun kita masih menyempatkan diri buat didengarkan.

Coba deh, pasti pernah di timeline anda ada aja yang kayak gitu. Ngetweet dikala kerja, saat mancing, liburan, makan, ee, sampe rumah. Mungkin ga sedikit orang yang protes "Itu ngetweet bisa, kok bales sms ga bisa,".

Kesimpulan saya sampai ke: "Ya karna ngetweet itu untuk diri sendiri, untuk saya, yang lebih saya sayangi dari anda, untuk kepuasan diri saya sendiri, bukan untuk orang lain. Karena ada kalanya seseorang ingin didengar oleh banyak orang."

Didengar oleh banyak orang. Itulah harapan hampa yang diberikan twitter :)) seolah-olah semua orang membaca kicauan kita dan membuat kita terus menerus ingin didengarkan. Lalu apa yang salah? Tidak ada yang salah, yang ada mungkin cara pandang masing-masing kita yang berbeda :)

In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.




-- Brian Massumi

Minggu, 08 April 2012

Kebahagiaan tidak menular, tapi membekas

Taman Kodok, Menteng
Ini awal dari tema dari blog saya kali ini. Inspirasinya datang ketika sepulang bertugas melewati sebuah taman yang menurut saya sedikit aneh namanya. Taman Kodok. Pertama kali membaca kalau taman ini dinamai taman kodok saya agak sedikit mengernyitkan dahi. kenapa taman kodok? Apakah sudah kehabisa sebuah nama untuk taman?

Baiklah, sampai disiti saja mengenai keheranan atas taman kodok ini. kita lanjut ke permasalahan utama.


Disamping adalah salah satu spot di Taman Kodok. Letaknya di pinggir jalan dekat lampu merah. yang unik dari bulatan-bulatan ini ternyata bisa mengeluarkan air dari lubang-lubang yang ada di dalam lingkaran dengan diameter sekitar 1,5 M.

Ini pertama kalinya saya tahu kalau ternyata di taman itu memang ada hiburan seperti itu. Namun kalau hanya itu saja rasanya biasa-biasa saja. toh banyak juga yang seperti itu.

Yang membuatnya menjadi tidak biasa ketika saya berhenti di lampu merah di samping lokasi ada 2 orang anak kecil umur 3-4 tahun. Laki-laki dan perempuan. Mereka dari seberang jalan berlari kesenangan ketika melihat air mancur keluar dari lubang-lubang yang tidak beraturan tersebut.

waktu itu masih sekitar pukul 4 sore. Belum ada nyala-nyala lampu seperti pada gambar. Yang ada hanya 2 anak kecil berlari-lari melihat adanya kegembiraan yang menunggu mereka di air mancur tersebut.
Bukan anak kecil namanya kalau tahu malu. Itu juga yang saya alami ketika mengajak adik saya berbelanja ke pusat perbelanjaan dan dia berteriak-teriak seolah-olah pusat perbelanjaan itu isinya saudara dan kerabat kita semua.

Baiklah kembali lagi ke anak kecil di taman Kodok. Kedua anak kecil tersebut langsung berdiri ke tengah lingkaran tersebut dan menebak lingkaran mana yang akan keluar airnya. Karena tidak jelas bulatan kecil yang mana yang akan mengeluarkan air setelah yang mana.

Mereka tertawa riang, bersorak-sorak seolah para pemakai jalanan adalah kerabat dan saudara mereka, persis seperti adik saya yang berteriak-teriak di pusat perbelanjaan. Tidak perduli mereka dengan keadaan sekitar. Mau ada yang tertawa, prihatin terhadap mereka, dan kasihan karena tidak punya tempat bagus untuk main air sekelas Water Bom. Apa mereka peduli? Saya rasa tidak. Bahkan ketika ada sekelompok anak muda yang memegang kamera DSLR mendekati mereka untuk mengabadikan momen tersebut mereka tidak sedikitpun memperdulikannya.

Yang mereka perdulikan saat itu hanyalah dari lubang mana air itu akan keluar sehingga mereka bisa berdiri di atasnya dan tersemprot oleh air mancur tersebut. Sehabis itu ya tentu saja tertawa sekencang-kencangnya sambil mengimbau temannya karena hal itu mengasikkan. Temannya juga melakukan hal yang serupa.

Mereka memakai baju lengkap, tak perduli apakah esok maish ada baju lagi atau tidak. Begitu melihat adanya kesempatan untuk bersenang-senang tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Mereka bersenang-senang seakan tiada hari esok untuk bermain. Habiskan seluruh tenang, persetan dengan hari esok. Pernah liat anak kecil main dengan sendirinya dan selesai sebelum permainan selesai? Mungkin ada, bagi mereka yang sudah berumur 5 tahun keatas dan sudah termakan rayuan orang tuanya yang mengatakan "Udahan mainnya nanti capek, sakit ga bisa sekolah loh,".

Begitulah, kadang orang tua suka menukarkan kegembiraan anaknya saat ini dengan ancaman tidak bisa merasakan kegembiraan esok harinya.

Baiklah sudah mulai melenceng. Bukan point itu yang saya ingin garis bawahi. Melihat anak kecil bermain itu ternyata saya yang kebetulan sedang lewat dan protes karena waktu itu hari Jum'at saat dimulainya long weekend tapi masih harus menyelesaikan pekerjaan jadi tersenyum sendiri. Tentu tersenyum karena tingkah sepasang anak kecil tersebut. Entah kenapa kebahagiaan mereka seperti menular kepada saya. bahkan sampai sekarang setelah 4 hari momen menunggu lampu merah sekitar 2 menit itupun masih terbekas. Jika ada judul film 3 hari untuk selamanya, mungkin ini adalah 1 menit untuk selamanya. Oke stop, agak berlebihan sampai disini.

Yang menarik adalah momen tersebut masih hinggap di kepala saya sampai sekarang. Jujur saya hendak menuliskan hal ini dari 4 hari yang lalu. Tapi tak kunjung kesampean. Yang mengagumkan adalah biasanya kehilangan ide kalau menunda diri untuk menulis. Tapi tidak dalam hal ini. semakin hari semakin banyak yang ingin ditulis. Semakin ditulis semakin banyak ide berdatangan di kepala.

Baiklah, udah mulai meracau lagi. Langsung ke permasalahan.

Pertanyaan saya dalam beberapa hari ini kenapa kedua anak kecil itu bisa sampai mempengaruhi perasaan saya. Sampai saat saya menulis ini pun saya masih tersenyum membayangkan kegembiaraan dia anak kecil tersebut.

Mungkin ini yang disebutkan oleh beberapa orang kalau kebahagiaan itu menular. Sama seperti bersin.
mungkin bisa dilihat di tautan ini tulisan Andrie Wongso Kebahagiaan Itu Menular. Namun bukan hanya itu. Menurut saya energi positif yang diberikan oleh kedua anak kecil itu sangat mempengaruhi sekitarnya. Mereka tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar mereka. sebaliknya, lingkunganlah yang terpengaruh oleh mereka. Semua mata pengendara, pejalan kaki, pengunjung minimarket sebelah jalan, dan para tukang ojek menatap mereka.

Mungkin ada sebagian yang senang melihat anak kecil tertawa. Mungkin ada yang iri dengan mereka karena mereka bisa main air dengan bebas sementara ada anak kecil yang kalau mau main air harus di kolam renang.

Mungkin kalau adik saya yang kecil melihatnya dia akan merasakan itu. Atau kalau ibu saya melihatnya dia akan memikirkan "ya ampun itu anak kecil ga takut sakit ya main air sembarangan gitu,". Sok tau? Tentu saya tahu jalan pikiran orang yang sudah tinggal bersama selama 23 tahun.
loh kok jadi makin kacau nyinggung-nyinggung orang tua??

Baiklah kembali lagi ke jalan yang benar. Belajar dari keberhasilan kedua anak kecil itu saya berkesimpulan bahwa benar adanya kalau kebahagiaan itu menular. Bahkan mungkin ketika sepasang anak kecil itu sedang menangis efeknya masih terasa kepada orang yang tertularkan.

Ya seperti itulah kebahagiaan. Pernah mendapatkan pemimpin yang bersemangat? Apa punya pemimpin semangat itu membuat anda menjadi semangat bekerja? enggak juga. tapi paling tidak punya pemimpin yang semangat itu memberikan harapan lebih untuk kelompok.

Andai di setiap waktu dan tugas setiap orang bisa mengeluarkan kebahagiaan seperti sepasang anak kecil tersebut tidak akan ada orang yang mengeluh. Tentu tidak akan ada orang mengeluh sakit karena menghabiskan tenaganya seolah-olah tiada hari esok untuk bermain lagi.

Ada yang punya pengalaman yang sama? mari dan silakan berbagi :)

Selamat berhari Senin kawan. Walaupun tulisan ini tidak bisa memperbaiki pekerjaan anda, keuangan anda paling tidak bisa mempengaruhi semangat pikiran anda kalau bersenang-senang bisa dimanapun, bahkan ditempat yang dibilang jorok dan banyak penyakit. apalagi kalau ditempat yang banyak uang dan ada Office Boy yang menjaga kebersihannya 24 jam :D
Selamat berhari senin, selamat makan siang


Selasa, 03 April 2012

Bantuan untuk Ningrum

Ini awal kisahnya.

Kesehatan sungguh mahal untuk Warni. Warni yang berprofesi sebagai penyapu jalan ini tidak mampu untuk mengobati anaknya yang mengalami pembengkakkan pembuluh darah di kakinya.
Warni mengaku sangat sedih dengan kondisi yang dialami oleh salah satu anaknya ini. Warni punya 5 orang anak dari hasil perkawinannya dengan Dija suaminya. Dari kelima anaknya itu ada sepasang anak kembar. Mereka adalah Sulistyo dan Sulistyowati. Mereka masih berumur 10 tahun. Kini mereka juga masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Warni sekarang tinggal di salah satu kontrakan Kecamatan Sukabumi Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Menurut Warni sampai mereka berumur 8 tahun mereka masih sama saja seperti anak-anak yang lain. Namun setahun belakangan soleh terkena pembengkakan pembulu darah.
Warni bukan tanpa usaha untuk mengobati anaknya. Dia ingin sekali anaknya sembuh. Lalu dia mengajukan pendaftaran untuk Askes. Tapi kemudian pihak rumah sakit mengatakan kalau yang gratis hanyalah penyakit demam anaknya. Sedangkan untuk pengobatan penyempitan pembulu darahnya tidak.
Warni semapt senang karena ada orang dekat rumahnya yang iba padanya sehingga akhirnya ia dibayari untuk berobat ke rumah sakit Pelni. Namun pengobatan yang dilakukan itu hanyalah sampai pemeriksaan. Sedangkan menurut dokter anaknya harus di operasi.
Warni telah mencari berbagai macam cara untuk mengobati anaknya selain menggunakan operasi. Sudah bermacam-macam pengobatan alternatiof dijalani oleh anaknya. Uangnya pun sudah habis untuk pengobanan anaknya. Padahal penghasilannya hanya 30 ribu dari menyapu jalan per harinya. Sedangkan suaminya yang menjadi tukang tambal ban, paling hanya mendapatkan 20 ribu per hari. “Buat makan saya sama keluarga masih kurang mas,” ujarnya.
Punya 5 orang anak diakui Warni memang sangat berat. Beruntung kemauan keras Warni untuk menyekolahkan anaknya yang paling besar sampai tamat Sekolah Menengah Kejuruan membuahkan hasil. Kini anaknya telah bekerja, dan uang kontrakan sebesar 350 ribu per bulan pun dibayari oleh anaknya. “Kalau ga dibayari saya mungkin tinggal di tempat tambal ban saya ini mas,” uajrnya sedih.
Warni mengaku dulu karena tidak mempunyai uang untuk membayar kontrakan ia harus tinggal di pinggir jalan tempat tambal ban suaminya. Padahal tempat tambal ban itu tidak ada dindingnya, hanyalah tiang yang ditutupi oleh terpal. Disitulah dulu ia tinggal bersama 5 orang anaknya.
Bukan ahnya itu, jika punya uang untuk mengontrak rumah pun, Warni mengaku sering ditolak. “Anak saya 5 mas, makanya yang punya kontrakan sering ga mau,” uajrnya.
Bukan hanya itu saja usaha Warni untuk mendapatkan bantuan pengobatan anaknya. Dia pernah ke dua stasiun televisi yang katanya bisa membantu anaknya untuk berobat Warni juga pernah pergi ke beberapa sdtasiun televisi, tapi televisi tersebut teryata tidak bisa membantu. Karenanya ia mohon dengan sangat kepada pihak manapun untuk bisa membantu anaknya agar bisa dioperasi.


Saya lupa kapan waktu kejadiannya. Tapi yang jelas sekitar hari kamis kemarin ada seorang teman dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) yang bantu Ningrum. Akhirnya ningrum dibawa ke RS Jagakarsa di Cakung.

Tapi ternyata ga segampan itu biar bisa berobat dan kakinya dioperasi. Ningrum harus mengeluarkan uang sekitar 1,3 juta untuk biaya scan MRI (yang ini saya agak ketuker sama mra).

Biaya 1,3 itu diambil dari biaya scan yang aslinya 2,6 dan dipotong 50% karena pakai Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dan dana itu dibutuhkan besok.

oleh karena itu saya Alfin mau minta tolong kalau memang ada yang mau membantu bisa menghubungi saya via hp di 081219120300 atau via twitter @omalfin. Berapapun sumbangannya akan sangat bermanfaat buat Ibu warni dan Ningrum. Untuk yang menginginkan alamat atau no hp yang bersangkutan bisa menghubungi saya. Nanti sya berikan agar bisa berbicara sendiri dengan orang tuanya Ningrum :)
Terimakasih :)