Selasa, 03 April 2012

Bantuan untuk Ningrum

Ini awal kisahnya.

Kesehatan sungguh mahal untuk Warni. Warni yang berprofesi sebagai penyapu jalan ini tidak mampu untuk mengobati anaknya yang mengalami pembengkakkan pembuluh darah di kakinya.
Warni mengaku sangat sedih dengan kondisi yang dialami oleh salah satu anaknya ini. Warni punya 5 orang anak dari hasil perkawinannya dengan Dija suaminya. Dari kelima anaknya itu ada sepasang anak kembar. Mereka adalah Sulistyo dan Sulistyowati. Mereka masih berumur 10 tahun. Kini mereka juga masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Warni sekarang tinggal di salah satu kontrakan Kecamatan Sukabumi Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Menurut Warni sampai mereka berumur 8 tahun mereka masih sama saja seperti anak-anak yang lain. Namun setahun belakangan soleh terkena pembengkakan pembulu darah.
Warni bukan tanpa usaha untuk mengobati anaknya. Dia ingin sekali anaknya sembuh. Lalu dia mengajukan pendaftaran untuk Askes. Tapi kemudian pihak rumah sakit mengatakan kalau yang gratis hanyalah penyakit demam anaknya. Sedangkan untuk pengobatan penyempitan pembulu darahnya tidak.
Warni semapt senang karena ada orang dekat rumahnya yang iba padanya sehingga akhirnya ia dibayari untuk berobat ke rumah sakit Pelni. Namun pengobatan yang dilakukan itu hanyalah sampai pemeriksaan. Sedangkan menurut dokter anaknya harus di operasi.
Warni telah mencari berbagai macam cara untuk mengobati anaknya selain menggunakan operasi. Sudah bermacam-macam pengobatan alternatiof dijalani oleh anaknya. Uangnya pun sudah habis untuk pengobanan anaknya. Padahal penghasilannya hanya 30 ribu dari menyapu jalan per harinya. Sedangkan suaminya yang menjadi tukang tambal ban, paling hanya mendapatkan 20 ribu per hari. “Buat makan saya sama keluarga masih kurang mas,” ujarnya.
Punya 5 orang anak diakui Warni memang sangat berat. Beruntung kemauan keras Warni untuk menyekolahkan anaknya yang paling besar sampai tamat Sekolah Menengah Kejuruan membuahkan hasil. Kini anaknya telah bekerja, dan uang kontrakan sebesar 350 ribu per bulan pun dibayari oleh anaknya. “Kalau ga dibayari saya mungkin tinggal di tempat tambal ban saya ini mas,” uajrnya sedih.
Warni mengaku dulu karena tidak mempunyai uang untuk membayar kontrakan ia harus tinggal di pinggir jalan tempat tambal ban suaminya. Padahal tempat tambal ban itu tidak ada dindingnya, hanyalah tiang yang ditutupi oleh terpal. Disitulah dulu ia tinggal bersama 5 orang anaknya.
Bukan ahnya itu, jika punya uang untuk mengontrak rumah pun, Warni mengaku sering ditolak. “Anak saya 5 mas, makanya yang punya kontrakan sering ga mau,” uajrnya.
Bukan hanya itu saja usaha Warni untuk mendapatkan bantuan pengobatan anaknya. Dia pernah ke dua stasiun televisi yang katanya bisa membantu anaknya untuk berobat Warni juga pernah pergi ke beberapa sdtasiun televisi, tapi televisi tersebut teryata tidak bisa membantu. Karenanya ia mohon dengan sangat kepada pihak manapun untuk bisa membantu anaknya agar bisa dioperasi.


Saya lupa kapan waktu kejadiannya. Tapi yang jelas sekitar hari kamis kemarin ada seorang teman dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) yang bantu Ningrum. Akhirnya ningrum dibawa ke RS Jagakarsa di Cakung.

Tapi ternyata ga segampan itu biar bisa berobat dan kakinya dioperasi. Ningrum harus mengeluarkan uang sekitar 1,3 juta untuk biaya scan MRI (yang ini saya agak ketuker sama mra).

Biaya 1,3 itu diambil dari biaya scan yang aslinya 2,6 dan dipotong 50% karena pakai Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dan dana itu dibutuhkan besok.

oleh karena itu saya Alfin mau minta tolong kalau memang ada yang mau membantu bisa menghubungi saya via hp di 081219120300 atau via twitter @omalfin. Berapapun sumbangannya akan sangat bermanfaat buat Ibu warni dan Ningrum. Untuk yang menginginkan alamat atau no hp yang bersangkutan bisa menghubungi saya. Nanti sya berikan agar bisa berbicara sendiri dengan orang tuanya Ningrum :)
Terimakasih :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar