Selasa, 02 Oktober 2012

Sedikit Racauan Mengenai Menggunakan Kendaraan Umum, Macet dan tentu saja Jakarta


Sejak beberapa waktu lalu saya berhenti menggunakan kendaraan roda dua saya untuk bertugas dan lebih memilih untuk memarkir kendaraan saya ditempat saya naik bis dan menuju jakarta dengan menggunakan bis. Alasan pertama saya sebenarnya sederhana, pengen coba-coba aja kerja ga bawa motor.

Mungkin rekan se profesi dengan saya juga ga membayangkan gimana profesi yang butuh mobilitas tinggi bisa dijalani dengan naik mobil umum.

Buat saya pada awalnya tak terbayang, bagaimana harus mengatur waktu diperjalanan sedangkan ada kalanya harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya yang letaknya tidak dekat secara mendadak. Namun setelah beberapa bulan mencoba saya mulai terbiasa mengatur ritme pekerjaan saya.

Memang ada kalanya saya datang terlambat ke suatu acara dan itu terjadi beberapa kali, bukan hanya sekali. Tapi kenapa saya ngotot untuk tetap tidak membawa motor saya dari Bekasi ke Jakarta?
Coba liat gambar diatas, cukup alasan buat naik kendaraan umum kan?

Coba kita uraikan satu persatu alasannya. Pertama, angkutan yang saya gunakan cukup nyaman, patas ac yang dengan sedikit strategi saya selalu bisa duduk dengan manis.

Perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai saya yang duduk ini sedangkan banyak wanita yang berdiri. Pertama seringkali saya perlu waktu untuk mengerjakan tugas pada saat berangkat kerja ataupun pulang, dan di bis ini menjadi kesempatan untuk menggarap bahan berita yang akan diselesaikan. Sayangnya ini tidak bisa dilakukan dengan berdiri karena seringkali saya harus menggunakan dua buah handphone bersamaan, yang satu mendengarkan rekaman dan yang lainnya mencatat.

Lagipula saya adalah pendukung emansipasi wanita dan kesetaraan gender. Agak heran juga soal ini tapi bakal melenceng juga kalau dibahas sekarang. Jadi saya putuskan dengan ego saya itu akan dibahas kedepan jika memang masih bersemangat dan yang paling penting ingat. Kalau ada yang mengingatkan ya bagus sekali.

Jadi intinya saya menganggap wanita itu kuat (kecuali yang hamil, nenek-nenek, membawa anak kecil, dan yang sakit). Jadi selain kriteria tersebut silakan meminta untuk duduk jika memang ingin duduk, jangan maunya disuapin mulu ah, lelaki sekarang udah brengsek semua termasuk saya.

Itu alasan pertama. Alasan keduanya kenapa saya lebhi senang naik angkot karena di bis itu ada penumpang lain. Namun bukan berarti nyari kenalan di bis tiap hari ya :|

Entah kenapa senang bisa melihat muka-muka para pekerja yang naik bis. Ekspresinya rupa-rupa dari mulai yang lelah dan ngantuk, yang cemberut, yang senyam senyum sendiri baca BBM, yang sibuk bikin berita (loh curhat ini, coret!) Ada juga yang termenung.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa memperhatikan orang lain itu nikmat sodara-sodara. Bahkan SBY pun saya perhatikan dengan seksama waktu lagunya dimainkan oleh Lea Simanjuntak yang bikin lagu SBY ngalahin lagu The Earth Song- M Jackson. Makasih tuh pak ama Lea. Okeh mulai melipir lagi. Mari kembali lagi komandan.

itu yang kedua, yang bertengger di urutan ketiga karena beban mental yang dibawa ketika naik bis dan angkot itu lebih rendah. Sama kayak supir pribadi, tapi kalau supir pribadi kita ambil pusing kalau mobil nabrak atau keserempet, kalau angkot atau bis tinggalin aja sambil tambain ongkos duka Rp 2000. Kok kedengeran kejam ya :|

Naik bis itu artinya menyerahkan beban mental yang mungkin didapat ketika naik motor atau mobil sendiri ke supir dan kita membayar si supir yang sudah kuat mental ini untuk merasakan penderitaan kita. Kalau di sastra semacam Hamartia namanya, tapi karna dibahas bakalan memanjang lagi-lagi kita lupakan. Toh ini bukan skripsi yang harus jelas-las.

Beban mental yang harus diterima di Jakarta itu ga sedikit komandan. Kadang untuk berada di kota yang pengguna jalannya gila kita ga bisa jadi orang waras. Coba bayangin, udah tau macet lampu merah, masi aja nglakson, udah tau ngelanggar jalan transjakarta masih aja pas transjakartanya berenti di klaksonin biar cepet jalan.
Yang terakhir itu sama aja kayak lw numpang boker dikamar mandi rumah orang tapi pas lw dateng orangnya lagi boker dan lw gedor-gedor suruh dia cepetan selesai. Kira kira seperti itulah. Ada banyak lagi, tapi nampaknya jadi cerpen kalau dituliskan satu-satu. Jadi kita bayar ongkos bis itu bukan cuma biar bawa kita ketempat yang dituju, tapi buat membebani beban kita kalau nyetir ke dia.
Alasan ketiga saya naik angkutan umum mungkin biar saya bisa ngeluh soal macet. Pernah liat kan orang yang ngeluh soal macet di twitter? Menghujat pemerintah soal kemacetan? Nyalahin gubernur lah yang  ga beres ngurusin kemacetan tapi dia pakai mobil yang isinya Cuma dia atau sama supir.
Sadar ga ya, yang bikin jalanan Jakarta itu makin padat ya orang-orang kayak dia yang pake mobil sendiri dan modalin anaknya pakai mobil sendiri padahal isinya Cuma satu orang. Semua orang Jakarta dan sekitarnya itu berharap punya mobil dan motor dan kalian masih ngarepin jalanan ga macet? Udah pada gila kali.
Soal kemacetan ini tampaknya harus dibahas lain kali. Huft. Bisa tambah panjang ini pencitraan gw…….
Alasan yang keempat adalah Transjakarta. Gw memandang Transjakarta sebagai savana di padang pasir, perawan disekeliling lelaki lanang #loh
Ya begitulah, transjakarta itu salah satu hal normal ditengah kegilaan Jakarta. Walau kadang jadi kurang manusiawi pas jam berangkat dan pulang kerja terutama di koridor tertentu yang kekurangan armada. Jujur kalau melihat kepadatan transjakarta di pagi dan sore itu menakjubkan. Ga heran orang berebut sesuatu yang normal daripada naik yang gila.
Iya Transjakarta bisa bawa kita kemana aja hampir di seluruh jakarta. Karena transjakarta inilah saya yakin bisa make kendaraan umum bukannya bawa motor. Omong-omong kenapa burung transjakarta bijinya tiga?? 
Segitu dulu ah. Nanti kapan-kapan jika ada permintaan kita teruskan lagi tulisan ini, masih banyak pencitraan lain yang siap saya bentuk. Maaf atas ketidak konsistetan saya menggunakan kata gw, saya, lw, anda dan lain sebagainya, maaf jika ada salah-salah kata maklum diketik di hape sembari menunggu bis ini mengantarkan saya sampai tujuan.


In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.



-- Brian Massumi

1 komentar:

  1. Laki-laki yg gak kasih duduk ke cewek muda tuh bukan brengsek, tapi adil dan menghormati budaya antri, sekedar koreksi aja, wajar kalau siapa duluan naik bus dia dapet privilege. Lain kalau penumpang khusus seperti ibu hamil, lansia, gendong bayi dan orang diffabel. Kalau mau minta pun, kalau minta cewek gak hamil, gak cacat gw tolak kalau gw lagi cape bgt atau sakit, kalau gw sehat en gak cape br gw kasih siapapun yg minta baik2.

    BalasHapus