"Dalam peristiwa itu, seorang warga Desa Umbulan, Sarta, mengalami luka parah di lengan kanannya oleh senjata tajam. "Lengan kanan Sarta hampir putus dibacok oleh anggota Jamaah Ahmadiyah," kata Lukman.
Lukman menjelaskan, sebenarnya warga tak bermaksud melakukan kekerasan dan hanya ingin agar Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik pimpinan Parman membubarkan diri."
Lukman menjelaskan, sebenarnya warga tak bermaksud melakukan kekerasan dan hanya ingin agar Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik pimpinan Parman membubarkan diri."
Di atas adalah sepenggal kutipan yang saya ambil dari kaskus. Sumber. Itu adalah argumen warga yang ada di Lokasi yang di wawancarai, dan dari pihak Ahmadiah mengatakan mereka hanya bersilaturahmi, masa silaturahmi ga boleh?
Dari Pihak Kepolisian berkata mereka telah memperingatkan mereka, tetapi para jemaar Ahmadiah berkata bahwa mereka bisa membela diri mereka sendiri. Dari pihak Ahmadiah mengatakan bahwa mereka telah meminta polisi untuk melindungi mereka.
Pembelaan demi pembelaan akan terus kita dengarkan kalau kita mengikuti hal ini secara terus menerus. Sifat alami manusia untuk membela dirinya sendiri. Membela diri yang saya bicarakan disini bukan berarti saya mengartikan mereka salah atau benar. Setiap orangpasti punya alasan sendiri untuk melakukan sesuatu seperti memukul, menikam dan membicarakan seseorang. Setiap orang juga pasti mempunyai keberpihakan. Karena tidak ada yang netral di dunia ini. Bahkan ketika saya menjelaskan kejadian yang terjadi pada orang yang tidak saya kenal pun saya akan mempunyai keberpihakan ke pihak tertentu, yaitu ke pihak yang saya anggap lebih benar.
Adu argumen mungkin bukan sesuatu yang perlu dilakukan lagi, karena sudah jelas keputusannya bahwa Ahmadiah sudah dinyatakan menyimpang dan dinyatakan sesat oleh MUI indonesia. Tidak ada keraguan lagi dalam hal itu.
Tetapi, apakah negara bisa mengatur apa yang difikirkan oleh rakyatnya? Di negara ini bebas berpendapat bukan? Ketika saya bilang Komunis itu baik tidak ada yang akan menangkap saya bukan? Kalau saya berteriak teriak dan menyatakan saya seorang komunis sejati di jalan bukankan itu tidak melanggar hukum? Dan kalau saya mempunyai kepercayaan bahwa tuhan itu tidak ada apakah pemerintah akan menangkap saya?
Kadang saya bingung dengan negeri ini, Negeri ini punya perundang-undangan yang sangat rumit dan lengkap jikalau dibandingkan dengan negara-negara lain, tapi masih banyak pula masalahnya. Yang dilarang itu adalah menyebarkan ajaran agama yang kita anggap sesat itu bukan? tetapi bukankah kita masih bebas berkumpul dengan siapapun yang kita mau. Saya mencoba netral dalam menulis ini, tapi yang terjadi saya malah membela pihak Ahmadiah bukan? Itulah kenapa saya sebut selalu ada keberpihakan di dalam menulis.
Oh iya, hampir terlupa oleh saya. Mungkin ini tulisan terakhir saya. Mungkin sehabis ini orang orang akan datang ke kamar kost saya dengan membawa benda benda tajam dan segera menghajar saya sampai nyawa saya meninggal. Lalu mereka akan bilang ke polisi bahwa saya mengancam keimanan masyarakat sekitar karena menulis tentang ini. Perihal mereka membunuh saya mereka akan mengatakan bahwa saya mengacung-acungkan golok dan senjata tajam kepada mereka sehingga mereka naik pitam dan langsung menghajar saya. Lalu semua orang percaya, tentu saja. Siapa yang bisa mereka mintai keterangan lagi? Saya sudah mati dan tidak bisa ditanyai. Kalau saya menulis lagi, itu tandanya saya belum mati.
Aaah sampai lupa saya kan membahas tema utama saya, hampir saja saya terjebak lagi oleh narasi yang narator bentuk itu. Begini saja, saya akan menyakatan pendapat saya secara langsung. Menurut saya masalah ini tidak akan terpecahkan, kekerasan atas nama suatu agama akan selalu menghiasi koran-koran dan berita di televisi kedepannya. Dalam kuliah saya, saya dijarkan sesuatu yang bernama durasi. Bagaimana di dalam novel narator mengalihkan sudut pandang pembaca melalui pembahasan yang tidak proporsional. Disitu bisa terlihat bagaimana suatu masalah kecil bisa muncul dan dibahas dengan begitu banyaknya untuk mengalihkan konsen yang ada pada pembaca kedalam hal yang remeh, sehinga masalah utama dalam novel tersebut bisa ditutupi oleh narasi yang dikeluarkan narator dengan menaikkan durasi hal-hal lain.
Mungkin saja ada narator yang memelihara hal-hal yang bisa dijadikan narasi baru untuk menutupi narasi yang lain. Narasi yang kadang keluar dari kendali narator. Maka dibuat olehnya lah narasi tersebut, dinaikkan durasinya sehingga seolah-olah hal-hal lain dibalik itu menjadi terlupakan.
Berhasilkah? itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan susah payah dan argumen yang panjang. Berapa kasus besar yang ada di negara kita saat ini? Satu hal yang bisa kita cermati sebagai pembaca narasi yang baik untuk mendapatkan kesimpulan apa narasi besarnya adalah dengan mencari gejala apa yang muncul sebelum adanya narasi yang baru.
In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.
-- Brian Massumi