Senin, 07 Februari 2011

Narasi Tragedi Cikeusik

Paling tidak ada tiga orang tewas dalam serangan terhadap jemaat Ahmadiah di Cikeusik. Dari beberapa forum saya membaca bahwa kedua belah pihak sama-sama mempunyai pembelaan terhadap posisi mereka. Ketika salah seorang pihak dari Ahmadiah mengatakan bahwa mereka diserang salah satu pihak yang merasa ada keluarganya di tempat kejadian mengatakan bahwa warga menyerang karena salah satu warga tangannya terluka.

"Dalam peristiwa itu, seorang warga Desa Umbulan, Sarta, mengalami luka parah di lengan kanannya oleh senjata tajam. "Lengan kanan Sarta hampir putus dibacok oleh anggota Jamaah Ahmadiyah," kata Lukman.

Lukman menjelaskan, sebenarnya warga tak bermaksud melakukan kekerasan dan hanya ingin agar Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik pimpinan Parman membubarkan diri."

Di atas adalah sepenggal kutipan yang saya ambil dari kaskus. Sumber. Itu adalah argumen warga yang ada di Lokasi yang di wawancarai, dan dari pihak Ahmadiah mengatakan mereka hanya bersilaturahmi, masa silaturahmi ga boleh? 

Dari Pihak Kepolisian berkata mereka telah memperingatkan mereka, tetapi para jemaar Ahmadiah berkata bahwa mereka bisa membela diri mereka sendiri. Dari pihak Ahmadiah mengatakan bahwa mereka telah meminta polisi untuk melindungi mereka.

Pembelaan demi pembelaan akan terus kita dengarkan kalau kita mengikuti hal ini secara terus menerus. Sifat alami manusia untuk membela dirinya sendiri. Membela diri yang saya bicarakan disini bukan berarti saya mengartikan mereka salah atau benar. Setiap orangpasti punya alasan sendiri untuk melakukan sesuatu seperti memukul, menikam dan membicarakan seseorang. Setiap orang juga pasti mempunyai keberpihakan. Karena tidak ada yang netral di dunia ini. Bahkan ketika saya menjelaskan kejadian yang terjadi pada orang yang tidak saya kenal pun saya akan mempunyai keberpihakan ke pihak tertentu, yaitu ke pihak yang saya anggap lebih benar.

Adu argumen mungkin bukan sesuatu yang perlu dilakukan lagi, karena sudah jelas keputusannya bahwa Ahmadiah sudah dinyatakan menyimpang dan dinyatakan sesat oleh MUI indonesia. Tidak ada keraguan lagi dalam hal itu.

Tetapi, apakah negara bisa mengatur apa yang difikirkan oleh rakyatnya? Di negara ini bebas berpendapat bukan? Ketika saya bilang Komunis itu baik tidak ada yang akan menangkap saya bukan? Kalau saya berteriak teriak dan menyatakan saya seorang komunis sejati di jalan bukankan itu tidak melanggar hukum? Dan kalau saya mempunyai kepercayaan bahwa tuhan itu tidak ada apakah pemerintah akan menangkap saya?

Kadang saya bingung dengan negeri ini, Negeri ini punya perundang-undangan yang sangat rumit dan lengkap jikalau dibandingkan dengan negara-negara lain, tapi masih banyak pula masalahnya. Yang dilarang itu adalah menyebarkan ajaran agama yang kita anggap  sesat itu bukan? tetapi bukankah kita masih bebas berkumpul dengan siapapun yang kita mau. Saya mencoba netral dalam menulis ini, tapi yang terjadi saya malah membela pihak Ahmadiah bukan? Itulah kenapa saya sebut selalu ada keberpihakan di dalam menulis.

Oh iya, hampir terlupa oleh saya. Mungkin ini tulisan terakhir saya. Mungkin sehabis ini orang orang akan datang ke kamar kost saya dengan membawa benda benda tajam dan segera menghajar saya sampai nyawa saya meninggal. Lalu mereka akan bilang ke polisi bahwa saya mengancam keimanan masyarakat sekitar karena menulis tentang ini. Perihal mereka membunuh saya mereka akan mengatakan bahwa saya mengacung-acungkan golok dan senjata tajam kepada mereka sehingga mereka naik pitam dan langsung menghajar saya. Lalu semua orang percaya, tentu saja. Siapa yang bisa mereka mintai keterangan lagi? Saya sudah mati dan tidak bisa ditanyai. Kalau saya menulis lagi, itu tandanya saya belum mati.

Aaah sampai lupa saya kan membahas tema utama saya, hampir saja saya terjebak lagi oleh narasi yang narator bentuk itu. Begini saja, saya akan menyakatan pendapat saya secara langsung. Menurut saya masalah ini tidak akan terpecahkan, kekerasan atas nama suatu agama akan selalu menghiasi koran-koran dan berita di televisi kedepannya. Dalam kuliah saya, saya dijarkan sesuatu yang bernama durasi. Bagaimana di dalam novel narator mengalihkan sudut pandang pembaca melalui pembahasan yang tidak proporsional. Disitu bisa terlihat bagaimana suatu masalah kecil bisa muncul dan dibahas dengan begitu banyaknya untuk mengalihkan konsen yang ada pada pembaca kedalam hal yang remeh, sehinga masalah utama dalam novel tersebut bisa ditutupi oleh narasi yang dikeluarkan narator dengan menaikkan durasi hal-hal lain.

Mungkin saja ada narator yang memelihara hal-hal yang bisa dijadikan narasi baru untuk menutupi narasi yang lain. Narasi yang kadang keluar dari kendali narator. Maka dibuat olehnya lah narasi tersebut, dinaikkan durasinya sehingga seolah-olah hal-hal lain dibalik itu menjadi terlupakan. 

Berhasilkah? itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan susah payah dan argumen yang panjang. Berapa kasus besar yang ada di negara kita saat ini? Satu hal yang bisa kita cermati sebagai pembaca narasi yang baik untuk mendapatkan kesimpulan apa narasi besarnya adalah dengan mencari gejala apa yang muncul sebelum adanya narasi yang baru.


In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.



-- Brian Massumi

Sabtu, 05 Februari 2011

"You are what you tweet"

"You are what you tweet."
Beberapa waktu lalu saya menyadari hal itu. Twitter, si situs yang hanya menyediakan 140 karakter untuk menulis kicauan anda, bisa sangat mempengaruhi gambaran diri anda. Memang tidak adil seseorang di adili dengan menggunakan 140 karakter yang dia tulis. Kita bisa menghakimi orang dengan 140 karakter saja, dan sebaliknya, kita juga bisa dihakimi oleh orang dengan hanyan 140 karakter saja.

Mari kita mundur sejenak, membahas masalah lain yang berkaitan. Dalam sebuah novel ada yang disebut dengan Narasi, Narator dan Author. Narator adalah orang yang menceritakan bagaimana suatu kejadian yang terjadi di dalam sebuah novel, dan narasi adalah segala sesuatu yang diucapkan oleh narator. Ada satu bagian lagi yang disebut dialog. Tentu anda tau dialog bukan. Kalimat yang dikurung dalam tanda kutip.

Lalu apa korelasinya antara segala sesuatu yang ada di situs dengan 140 karakter itu? Kenapa kicauan yang hanya 140 karakter itu bisa membuat seseorang menyimpulkan bagaimana gambaran seseorang yang di follow olehnya. Memang jika kita melihat satu kicauan saja di twitter tidak akan merubah apa-apa. Sama hal nya dengan novel, Membaca satu halaman saja tidak akan memberikan gambaran apapun terhadap novel tersebut.

Bagaimana seseorang bisa dilihat karakternya adalah dengan membaca keseluruhan narasinya. Narasi yang dituliskan narator dari akun tersebut. Dengan melihat secara keseluruhan anda dapat mendapatkan gambaran bagaimana narator itu bersikap dan melihat kecenderungannya bersikap. Di dalam novel narator lah yang mengendalikan apa yang akan ditulis sebagai narasi dan apa yang akan dia tulis sebagai dialog. Hal ini bisa menimbulkan interpretasi tersendiri bagi pembaca. Berikut ini hanyalah sekadar contoh dari sebuah novel. Judulnya Across The River and Into The Trees. Sebuah novel karya Ernest Hemingway.


“I never cry,” the girl said. “Never. I made a rule not to. But I would cry now.”
“Don’t cry,” the Colonel said. “I’m gentle now and the hell with the rest of it.”
“Say once again that you love me.”
“I love you and I love you and I love you.”
“Will you do your best not to die?”
“Yes.”
“Not worse?”
“No,” he lied.

Kutipan diatas adalah percakapan antara tokoh laki-laki dan wanita di dalam novel tersebut. Kutipan ini kebetulan masuk ke dalam skripsi saya yang membahas tentang maskulinitas. Tidak ada salahnya untuk sekadar berbagi disini.

Baiklah, kita lanjutkan. Apa maksud dari kutipan di novel tersebut? Ketika yang disuguhkan dalam novel tersebut hanyalah kutipan kutipan pembicaraan tu akan lebih sulit untuk menentukan bagaimana sikap narator terhadap tokoh tersebut. Tetapi ketika di baris akhir narator dalam cerita itu masuk, pembaca menjadi lebih mudah untuk menilai keberpihakan narator. 

Dalam kutipan tersebut yang saya berikan perhatian secara garis besar adalah ketika narator memberikan statement bahwa tokoh laki-laki di dalam novel tersebut berbohog untuk menenangkan perasaan sang wanita. Dalam kutipan di atas terlihat bagaimana narator ingin karakter Kolonel digambarkan. Dari kecenderungan bahwa narator ingin karakter kolonel digambarkan dalam bentuk tertentu itulah bisa di ambil kesimpulan bahwa narator mempunyai keberpihakan terhadap tokoh kolonel dalam novel tersebut. Itulah sebuah contoh bagaimana narasi dari narator bisa kita baca dan mengukur kadar keberpihakannya.

Lalu apa hubungannya dengan kicauan-kicauan di twitter? 

Di Twitter andalah author tersebut. Ungkapan You are what you tweet mungkin bisa dibilang benar adanya. Lalu apa gunanya membahas novel tersebut dan membahas kecenderungan narator?
Untuk pertanyaan di atas mungkin akan lebih baik jika saya memberikan gambaran terlebih dahulu. Ada kejadian baru baru ini, namanya Koin Untuk SBY. SBY mungkin tidak bertujuan untuk mengeluhkan gajinya, pernyataannya pun bentuknya sebagai bentuk motivasi untuk para tentara agar bekerja yang giat tanpa memikirkan gaji. Hal itu langsung direspon oleh rakyatnya dan anggora dewan yang terhormat. Tetapi sayang arah tujuan pembicaraannya menjadi ke arah yang salah. Masyarakat mengira itu sebagai bentuk keluhan bahwa pak SBY meminta untuk naik gaji. Paling tidak Menteri Keuangan kita pun berfikir begitu, karena beliau langsung merespon pernyataan presiden kita tersebut. Itu adalah sebuah bentuk narasi yang dikeluarkan oleh Presiden kita. bagaimana dia bertindak sebagai Penulis atau dalam bahasa Inggris disebut Author, dan kita bisa mengukur sikapnya, apa yang dia inginkan dan apa yang ingin dicapainya.

Ada hal yang terlupa untuk saya jelaskan. Narator itu itu adalah kepanjangan tangan dari penulis (selanjutnya disebut author). Ada Dua jenis author, yang pertama adalah Real Author dan Implied Author*. Author yang baik tau bagaimana dia menarasikan dirinya untuk menyampaikan maksudnya sehingga bisa tercapai tujuannya. SBY mungkin juga dalam pidatonya tersebut berperan sebagai implied author untuk dirinya sendiri, atau mungkin dia hanya sebagai implied author bagi real author, yang kita tidak tahu siapa itu. 
Kita cukupkan membahas SBY sampai disini saja. Lalu apa hubungannya ke status di twitter? kembali lagi masalah itu yang menjadi pertanyaan.

Dengan tahu bagaimana orang atau sesuatu bernarasi kita juga tau akan efeknya jika menggunakan analisis tersebut pada diri kita. Tentang bagaimana SBY tau bagaimana dia harus menarasikan dirinya sendiri dan membuat orang lain menarasikannya. Ini hanyalah prasangka buruk saya, tetapi sudah seharusnya seorang presiden tau kalau himbauan seorang presiden itu bentuknya berbeda dengan himbauan rakyat biasa. Ingat beberapa kejadian kecuali masalah korupsi selesai setelah ada HIMBAUAN dari presiden? Kalau memang dia sadar dengan hal ini maka SBY telah menjadi implied author untuk dirinya sendiri. Dia mengatakan itu karena itulah keinginan real author. Sisi lain dari SBY yang menginginginkan hal yang terjadi sekarang ini, yaitu kenaikan gaji. Kenapa jadi ke SBY lagi y? itu hanyalah sebuah contoh, bukan kenyataan. 

Kalau anda mengerti bagaimana implied author dan real author bekerja anda juga harus sadar bagaimana orang mencitrakan anda jika anda menulis sesuatu di twitter anda.  Dengan mengetahuinya anda bisa tahu bagaimana caranya anda bisa membentuk pencitraan anda melalui twitter. Hal itulah yang dilakukan politisi-politisi sekarang untuk membangun citra bahwa mereka ingin yang terbaik untuk bangsa ini dan berbagai macam tujuan mulia mereka. Tapi siapa yang tahu kalau mereka hanyalah implied author untuk real author atau memang benar-benar seorang real author.

Contoh yang saya berikan di atas hanyalah mengambil dari salah satu kutipan saja, bukan secara keseluruhan. Jangan membuat ungkapan bahwa you are what you tweet menjadi benar, tapi buat ungkapan itu menjadi you are what you want people to tell what you are.

Komentar anda akan sangat hargai, baik atau buruk iti tetap baik untuk saya.

*Untuk lebih lengkapnya bisa baca Story and Discourse "Narrative Structure in Fiction and Film" karya Seymour Chatman



In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.



-- Brian Massumi

Jumat, 04 Februari 2011

Puasa Ramadhan oh Nasibmu

ketika seseorang berpuasa dia dituntut untuk berpuasa dia juga dituntut untuk menahan hawa nafsunya.  Suatu kali dan banyak kali imam-imam yang memberi ceramah itu pernah berkata bahwa puasa adalah kegiatan yang berhubungan langsung dengan Allah SWT, tanpa diketahui seorang pun. Lagi, menurut mereka ketika kita berpuasa tidak ada orang yang melihat atau mengetahui kita sedang berpuasa, tidak seperti ibadah yang lainnya, ketika kita sholat, kita terlihat orang, ketika kita zakat, orang tau kalau kita mengeluarkan zakat.
Orang-orang pun sangat bergembira menyambut datangnya bulan suci ramadhan, katanya itulah tempat kita  melebur dosa-dosa kita ( walaupun masih katanya ). Semua supermarket menyambut bulan ramadhan dengan semarak, diskon dimana-mana, tapi tentunya sebelum di diskon 50% harganya dinaikkan dulu 100%. Stasiun televisi pun berlomba-lomba menyuguhkan acara-acara yang bertema Ramadhan, baik saat sahur, saat menjelang berbuka, dan juga saat orang-orang sholat tarawih.
Ya itulah Ramadhan dan puasa. Bukan Ramadhan dan puasa seutuhnya, tapi itulah Ramadhan dan puasa yang sedang tren di negara tercinta ini. Bulan puasa dimana kita diharuskan menahan hawa nafsu malah ada kejadian dimana orang-orang yang memakai nama agama yang mengajarkan puasa mengikuti hawa nafsu mereka. Saya setuju kejahatan, kekafiran atau apapun yang kalian sebut itu harus diberantas, tentu saya sangat setuju. Tapi ini bukan negara kalian, saya menyarankan bagaimana kalau mereka membeli salah satu pulau ( kalau mereka punya uang) tapi pastinya mereka punya uang, karena orang dibelakang mereka pasti punya banyak uang untuk menghidupi anggota-anggotanya,  di bagian terluar, atau dimanapun, dan bentuk negara sendiri.
Modal diakuinya sebuah negara yang berdaulat adalah dengan adanya proklamasi dan pengakuan dari negara lainnya. Mereka punya modal kuat karena mekera pasti punya banyak dukungan dari orang Indonesia kalau mereka bukan penduduk Indonesia, dalam artian mereka adalah sekumpulan individu yang bebas, tanpa terikat ( dan memang dikarenakan mereka selama ini bebas mau berbuat apa saja tanpa ada konsekuensi), dan mereka pasti segerombolan orang, jadi kenapa tak bentuk negara sendiri, yang pasti akan lebih baik negara baru kalian itu. oh tapi saya lupa karena negara Indonesia ini juga milik mereka, mereka adalah orang-orang yang sangat menjunjung tinggi kebebasan mereka. Mereka orang yang sangat menikmati kebebasan di negeri ini, mereka orang yan gbisa berbuat anarkis tanpa ada tindak lanjut atau takut akan dipenjara. Baru-baru ini ada mahasiswa ditangkap ketika berdemo, dikatakannya provokator, ketika mereka mengusir seorang anggota DPR karena dianggap menghadiri temu kangen  kader PKI kenapa jadi mereka yang melaporkan anggota temu kangen itu? memang temu kangen itu dilarang di Indonesia y? dalih karena itu bisa membangkitkan komunisme pun dijadikan alasan untuk melakukan tindakan semena-mena, apakah Komunis itu dilarang di Indonesia? saat ini tidak sepertinya. Satu-satunya yang tidak ingin atau melarang Komunis adalah negara yang tidak takut komunis itu berkembang, oh mungkin dananya dari negara itu y?  justru ini adalah negara demokrasi dengan faham komunis yang sangat kental.
membahas mereka membuat saya melupakan topik utama, puasa, menahan godaan untuk tidak m enulis tentang mereka jauh lebih berat daripada menahan haus dan lapar. oke mari kita lanjutkan. Puasa di bulan Ramadhan ini sesungguhnya menjadi puasa yang lebih baik daripada puasa-puasa sunah. Lebih baik danlebihmudah tentunya, karena tempat-tempat makan dan yang kata mereka tempat maksiat ditutup, alasannya untuk menghormahti orang berpuasa. Kenapa orang berpuasa perlu dihormati? bukankah puasa itu urusan kita pribadi? kenapa puasa harus mengorbankan pencarian orang? dan kenapa puasa harus mengorbankan hak orang yang berkeyakinan lain?
Puasa menjadi suatu paksaan bukan lagi menjadi suatu keinginan, orang berpuasa karena tidak ada yang buka ketika siang hari, banyak contoh kasus seperti itu, dan orang yang berkeyakinan lain pun terpaksa harus ikut puasa, karena hak mereka untuk membeli makanan terenggut. Puasakah seperti itu? Berpuasa karena memang tidak bisa makan dan minum atau karena berpuasa dan menahan hawa nafsu karena kita bisa makan-minum dengan bebasnya tapi kita memilih tidak melakukannya?



Ini hanyalah sebuah racauan, baik buruknya bagaimana anda menilainya. Yang baik untuk saya adalah anda memberikan komentar untuk merangsang saya menulis lebih baik lagi.
In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.


-- Brian Massumi

Masturnotes

it's all about "Mastur-"
the following definitions come from www.urbandictionary.com

Masturdating: Going out alone. I.e. seeing a movie by yourself, going to a restaurant alone.
Going out alone. I.e. seeing a movie by yourself, going to a restaurant alone.

Masturday: When someone engages in nothing more but in acts of musturbation all day long.
Friend 1: "Has Gupta come out of his room yet?"
Friend 2: "Naw, today is his masturday."


Masturbatorium: A location frequently used for one's own masturbation, usually adorned with the fixtures for self stimulation such as pornography, and other turn-ons.
Jeff whacked off in his masturbatorium full of pictures of obese women and Bill Gates.

Masturcheating: Masturdating while being married or in relationship - eating out, going to see movies, eating ice cream alone, when your spouse or partner doesn't show any interest for such activities.
Darling, why don't we go and see Twilight Eclipse together? I'm sick of masturcheating on you.

Masturcrying: simultaneously crying and masturbating from the same stimulus, often considered the most pathetic act a human can perform.
When I saw Naomi Watts masturcrying in "Mulholland Drive," I got a woody even though it was wrong.

Masturdate: Masturbating before a date so you don't think about sex the whole date. As seen in "There's Something About Mary."
Jim: Dude, are you ready for this double date with Crystal and Lisa? 
Jack: Yeah. Just let me masturdate first. Lisa's so hot, I don't want to ruin this!

Masturdebatable: Debating what pornographic movie/video to watch when preparing to masturbate.
It was masturdebatable whether to watch "Ass Jacked at Cock Point" or "Back Door Sluts 18"

Masturfaker: A guy who claims he doesn't masturbate.
"Jimmy says that he doesn't masturbate." 
What a masturfaker!"

Masturbatron: An incredibly shy transformer who isn't seen in any films because he is constantly masturbating.

Masturthesis: Doing masturbation when you think about thesis :|