Beberapa waktu lalu saya menyadari hal itu. Twitter, si situs yang hanya menyediakan 140 karakter untuk menulis kicauan anda, bisa sangat mempengaruhi gambaran diri anda. Memang tidak adil seseorang di adili dengan menggunakan 140 karakter yang dia tulis. Kita bisa menghakimi orang dengan 140 karakter saja, dan sebaliknya, kita juga bisa dihakimi oleh orang dengan hanyan 140 karakter saja.
Mari kita mundur sejenak, membahas masalah lain yang berkaitan. Dalam sebuah novel ada yang disebut dengan Narasi, Narator dan Author. Narator adalah orang yang menceritakan bagaimana suatu kejadian yang terjadi di dalam sebuah novel, dan narasi adalah segala sesuatu yang diucapkan oleh narator. Ada satu bagian lagi yang disebut dialog. Tentu anda tau dialog bukan. Kalimat yang dikurung dalam tanda kutip.
Lalu apa korelasinya antara segala sesuatu yang ada di situs dengan 140 karakter itu? Kenapa kicauan yang hanya 140 karakter itu bisa membuat seseorang menyimpulkan bagaimana gambaran seseorang yang di follow olehnya. Memang jika kita melihat satu kicauan saja di twitter tidak akan merubah apa-apa. Sama hal nya dengan novel, Membaca satu halaman saja tidak akan memberikan gambaran apapun terhadap novel tersebut.
Bagaimana seseorang bisa dilihat karakternya adalah dengan membaca keseluruhan narasinya. Narasi yang dituliskan narator dari akun tersebut. Dengan melihat secara keseluruhan anda dapat mendapatkan gambaran bagaimana narator itu bersikap dan melihat kecenderungannya bersikap. Di dalam novel narator lah yang mengendalikan apa yang akan ditulis sebagai narasi dan apa yang akan dia tulis sebagai dialog. Hal ini bisa menimbulkan interpretasi tersendiri bagi pembaca. Berikut ini hanyalah sekadar contoh dari sebuah novel. Judulnya Across The River and Into The Trees. Sebuah novel karya Ernest Hemingway.
“I never cry,” the girl said. “Never. I made a rule not to. But I would cry now.”
“Don’t cry,” the Colonel said. “I’m gentle now and the hell with the rest of it.”
“Say once again that you love me.”
“I love you and I love you and I love you.”
“Will you do your best not to die?”
“Yes.”
“Not worse?”
“No,” he lied.
Kutipan diatas adalah percakapan antara tokoh laki-laki dan wanita di dalam novel tersebut. Kutipan ini kebetulan masuk ke dalam skripsi saya yang membahas tentang maskulinitas. Tidak ada salahnya untuk sekadar berbagi disini.
Baiklah, kita lanjutkan. Apa maksud dari kutipan di novel tersebut? Ketika yang disuguhkan dalam novel tersebut hanyalah kutipan kutipan pembicaraan tu akan lebih sulit untuk menentukan bagaimana sikap narator terhadap tokoh tersebut. Tetapi ketika di baris akhir narator dalam cerita itu masuk, pembaca menjadi lebih mudah untuk menilai keberpihakan narator.
Dalam kutipan tersebut yang saya berikan perhatian secara garis besar adalah ketika narator memberikan statement bahwa tokoh laki-laki di dalam novel tersebut berbohog untuk menenangkan perasaan sang wanita. Dalam kutipan di atas terlihat bagaimana narator ingin karakter Kolonel digambarkan. Dari kecenderungan bahwa narator ingin karakter kolonel digambarkan dalam bentuk tertentu itulah bisa di ambil kesimpulan bahwa narator mempunyai keberpihakan terhadap tokoh kolonel dalam novel tersebut. Itulah sebuah contoh bagaimana narasi dari narator bisa kita baca dan mengukur kadar keberpihakannya.
Lalu apa hubungannya dengan kicauan-kicauan di twitter?
Di Twitter andalah author tersebut. Ungkapan You are what you tweet mungkin bisa dibilang benar adanya. Lalu apa gunanya membahas novel tersebut dan membahas kecenderungan narator?
Untuk pertanyaan di atas mungkin akan lebih baik jika saya memberikan gambaran terlebih dahulu. Ada kejadian baru baru ini, namanya Koin Untuk SBY. SBY mungkin tidak bertujuan untuk mengeluhkan gajinya, pernyataannya pun bentuknya sebagai bentuk motivasi untuk para tentara agar bekerja yang giat tanpa memikirkan gaji. Hal itu langsung direspon oleh rakyatnya dan anggora dewan yang terhormat. Tetapi sayang arah tujuan pembicaraannya menjadi ke arah yang salah. Masyarakat mengira itu sebagai bentuk keluhan bahwa pak SBY meminta untuk naik gaji. Paling tidak Menteri Keuangan kita pun berfikir begitu, karena beliau langsung merespon pernyataan presiden kita tersebut. Itu adalah sebuah bentuk narasi yang dikeluarkan oleh Presiden kita. bagaimana dia bertindak sebagai Penulis atau dalam bahasa Inggris disebut Author, dan kita bisa mengukur sikapnya, apa yang dia inginkan dan apa yang ingin dicapainya.
Ada hal yang terlupa untuk saya jelaskan. Narator itu itu adalah kepanjangan tangan dari penulis (selanjutnya disebut author). Ada Dua jenis author, yang pertama adalah Real Author dan Implied Author*. Author yang baik tau bagaimana dia menarasikan dirinya untuk menyampaikan maksudnya sehingga bisa tercapai tujuannya. SBY mungkin juga dalam pidatonya tersebut berperan sebagai implied author untuk dirinya sendiri, atau mungkin dia hanya sebagai implied author bagi real author, yang kita tidak tahu siapa itu.
Kita cukupkan membahas SBY sampai disini saja. Lalu apa hubungannya ke status di twitter? kembali lagi masalah itu yang menjadi pertanyaan.
Dengan tahu bagaimana orang atau sesuatu bernarasi kita juga tau akan efeknya jika menggunakan analisis tersebut pada diri kita. Tentang bagaimana SBY tau bagaimana dia harus menarasikan dirinya sendiri dan membuat orang lain menarasikannya. Ini hanyalah prasangka buruk saya, tetapi sudah seharusnya seorang presiden tau kalau himbauan seorang presiden itu bentuknya berbeda dengan himbauan rakyat biasa. Ingat beberapa kejadian kecuali masalah korupsi selesai setelah ada HIMBAUAN dari presiden? Kalau memang dia sadar dengan hal ini maka SBY telah menjadi implied author untuk dirinya sendiri. Dia mengatakan itu karena itulah keinginan real author. Sisi lain dari SBY yang menginginginkan hal yang terjadi sekarang ini, yaitu kenaikan gaji. Kenapa jadi ke SBY lagi y? itu hanyalah sebuah contoh, bukan kenyataan.
Kalau anda mengerti bagaimana implied author dan real author bekerja anda juga harus sadar bagaimana orang mencitrakan anda jika anda menulis sesuatu di twitter anda. Dengan mengetahuinya anda bisa tahu bagaimana caranya anda bisa membentuk pencitraan anda melalui twitter. Hal itulah yang dilakukan politisi-politisi sekarang untuk membangun citra bahwa mereka ingin yang terbaik untuk bangsa ini dan berbagai macam tujuan mulia mereka. Tapi siapa yang tahu kalau mereka hanyalah implied author untuk real author atau memang benar-benar seorang real author.
Contoh yang saya berikan di atas hanyalah mengambil dari salah satu kutipan saja, bukan secara keseluruhan. Jangan membuat ungkapan bahwa you are what you tweet menjadi benar, tapi buat ungkapan itu menjadi you are what you want people to tell what you are.
Komentar anda akan sangat hargai, baik atau buruk iti tetap baik untuk saya.
*Untuk lebih lengkapnya bisa baca Story and Discourse "Narrative Structure in Fiction and Film" karya Seymour Chatman
In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.
-- Brian Massumi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar