Jumat, 04 Februari 2011

Puasa Ramadhan oh Nasibmu

ketika seseorang berpuasa dia dituntut untuk berpuasa dia juga dituntut untuk menahan hawa nafsunya.  Suatu kali dan banyak kali imam-imam yang memberi ceramah itu pernah berkata bahwa puasa adalah kegiatan yang berhubungan langsung dengan Allah SWT, tanpa diketahui seorang pun. Lagi, menurut mereka ketika kita berpuasa tidak ada orang yang melihat atau mengetahui kita sedang berpuasa, tidak seperti ibadah yang lainnya, ketika kita sholat, kita terlihat orang, ketika kita zakat, orang tau kalau kita mengeluarkan zakat.
Orang-orang pun sangat bergembira menyambut datangnya bulan suci ramadhan, katanya itulah tempat kita  melebur dosa-dosa kita ( walaupun masih katanya ). Semua supermarket menyambut bulan ramadhan dengan semarak, diskon dimana-mana, tapi tentunya sebelum di diskon 50% harganya dinaikkan dulu 100%. Stasiun televisi pun berlomba-lomba menyuguhkan acara-acara yang bertema Ramadhan, baik saat sahur, saat menjelang berbuka, dan juga saat orang-orang sholat tarawih.
Ya itulah Ramadhan dan puasa. Bukan Ramadhan dan puasa seutuhnya, tapi itulah Ramadhan dan puasa yang sedang tren di negara tercinta ini. Bulan puasa dimana kita diharuskan menahan hawa nafsu malah ada kejadian dimana orang-orang yang memakai nama agama yang mengajarkan puasa mengikuti hawa nafsu mereka. Saya setuju kejahatan, kekafiran atau apapun yang kalian sebut itu harus diberantas, tentu saya sangat setuju. Tapi ini bukan negara kalian, saya menyarankan bagaimana kalau mereka membeli salah satu pulau ( kalau mereka punya uang) tapi pastinya mereka punya uang, karena orang dibelakang mereka pasti punya banyak uang untuk menghidupi anggota-anggotanya,  di bagian terluar, atau dimanapun, dan bentuk negara sendiri.
Modal diakuinya sebuah negara yang berdaulat adalah dengan adanya proklamasi dan pengakuan dari negara lainnya. Mereka punya modal kuat karena mekera pasti punya banyak dukungan dari orang Indonesia kalau mereka bukan penduduk Indonesia, dalam artian mereka adalah sekumpulan individu yang bebas, tanpa terikat ( dan memang dikarenakan mereka selama ini bebas mau berbuat apa saja tanpa ada konsekuensi), dan mereka pasti segerombolan orang, jadi kenapa tak bentuk negara sendiri, yang pasti akan lebih baik negara baru kalian itu. oh tapi saya lupa karena negara Indonesia ini juga milik mereka, mereka adalah orang-orang yang sangat menjunjung tinggi kebebasan mereka. Mereka orang yang sangat menikmati kebebasan di negeri ini, mereka orang yan gbisa berbuat anarkis tanpa ada tindak lanjut atau takut akan dipenjara. Baru-baru ini ada mahasiswa ditangkap ketika berdemo, dikatakannya provokator, ketika mereka mengusir seorang anggota DPR karena dianggap menghadiri temu kangen  kader PKI kenapa jadi mereka yang melaporkan anggota temu kangen itu? memang temu kangen itu dilarang di Indonesia y? dalih karena itu bisa membangkitkan komunisme pun dijadikan alasan untuk melakukan tindakan semena-mena, apakah Komunis itu dilarang di Indonesia? saat ini tidak sepertinya. Satu-satunya yang tidak ingin atau melarang Komunis adalah negara yang tidak takut komunis itu berkembang, oh mungkin dananya dari negara itu y?  justru ini adalah negara demokrasi dengan faham komunis yang sangat kental.
membahas mereka membuat saya melupakan topik utama, puasa, menahan godaan untuk tidak m enulis tentang mereka jauh lebih berat daripada menahan haus dan lapar. oke mari kita lanjutkan. Puasa di bulan Ramadhan ini sesungguhnya menjadi puasa yang lebih baik daripada puasa-puasa sunah. Lebih baik danlebihmudah tentunya, karena tempat-tempat makan dan yang kata mereka tempat maksiat ditutup, alasannya untuk menghormahti orang berpuasa. Kenapa orang berpuasa perlu dihormati? bukankah puasa itu urusan kita pribadi? kenapa puasa harus mengorbankan pencarian orang? dan kenapa puasa harus mengorbankan hak orang yang berkeyakinan lain?
Puasa menjadi suatu paksaan bukan lagi menjadi suatu keinginan, orang berpuasa karena tidak ada yang buka ketika siang hari, banyak contoh kasus seperti itu, dan orang yang berkeyakinan lain pun terpaksa harus ikut puasa, karena hak mereka untuk membeli makanan terenggut. Puasakah seperti itu? Berpuasa karena memang tidak bisa makan dan minum atau karena berpuasa dan menahan hawa nafsu karena kita bisa makan-minum dengan bebasnya tapi kita memilih tidak melakukannya?



Ini hanyalah sebuah racauan, baik buruknya bagaimana anda menilainya. Yang baik untuk saya adalah anda memberikan komentar untuk merangsang saya menulis lebih baik lagi.
In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.


-- Brian Massumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar