Minggu, 08 April 2012

Kebahagiaan tidak menular, tapi membekas

Taman Kodok, Menteng
Ini awal dari tema dari blog saya kali ini. Inspirasinya datang ketika sepulang bertugas melewati sebuah taman yang menurut saya sedikit aneh namanya. Taman Kodok. Pertama kali membaca kalau taman ini dinamai taman kodok saya agak sedikit mengernyitkan dahi. kenapa taman kodok? Apakah sudah kehabisa sebuah nama untuk taman?

Baiklah, sampai disiti saja mengenai keheranan atas taman kodok ini. kita lanjut ke permasalahan utama.


Disamping adalah salah satu spot di Taman Kodok. Letaknya di pinggir jalan dekat lampu merah. yang unik dari bulatan-bulatan ini ternyata bisa mengeluarkan air dari lubang-lubang yang ada di dalam lingkaran dengan diameter sekitar 1,5 M.

Ini pertama kalinya saya tahu kalau ternyata di taman itu memang ada hiburan seperti itu. Namun kalau hanya itu saja rasanya biasa-biasa saja. toh banyak juga yang seperti itu.

Yang membuatnya menjadi tidak biasa ketika saya berhenti di lampu merah di samping lokasi ada 2 orang anak kecil umur 3-4 tahun. Laki-laki dan perempuan. Mereka dari seberang jalan berlari kesenangan ketika melihat air mancur keluar dari lubang-lubang yang tidak beraturan tersebut.

waktu itu masih sekitar pukul 4 sore. Belum ada nyala-nyala lampu seperti pada gambar. Yang ada hanya 2 anak kecil berlari-lari melihat adanya kegembiraan yang menunggu mereka di air mancur tersebut.
Bukan anak kecil namanya kalau tahu malu. Itu juga yang saya alami ketika mengajak adik saya berbelanja ke pusat perbelanjaan dan dia berteriak-teriak seolah-olah pusat perbelanjaan itu isinya saudara dan kerabat kita semua.

Baiklah kembali lagi ke anak kecil di taman Kodok. Kedua anak kecil tersebut langsung berdiri ke tengah lingkaran tersebut dan menebak lingkaran mana yang akan keluar airnya. Karena tidak jelas bulatan kecil yang mana yang akan mengeluarkan air setelah yang mana.

Mereka tertawa riang, bersorak-sorak seolah para pemakai jalanan adalah kerabat dan saudara mereka, persis seperti adik saya yang berteriak-teriak di pusat perbelanjaan. Tidak perduli mereka dengan keadaan sekitar. Mau ada yang tertawa, prihatin terhadap mereka, dan kasihan karena tidak punya tempat bagus untuk main air sekelas Water Bom. Apa mereka peduli? Saya rasa tidak. Bahkan ketika ada sekelompok anak muda yang memegang kamera DSLR mendekati mereka untuk mengabadikan momen tersebut mereka tidak sedikitpun memperdulikannya.

Yang mereka perdulikan saat itu hanyalah dari lubang mana air itu akan keluar sehingga mereka bisa berdiri di atasnya dan tersemprot oleh air mancur tersebut. Sehabis itu ya tentu saja tertawa sekencang-kencangnya sambil mengimbau temannya karena hal itu mengasikkan. Temannya juga melakukan hal yang serupa.

Mereka memakai baju lengkap, tak perduli apakah esok maish ada baju lagi atau tidak. Begitu melihat adanya kesempatan untuk bersenang-senang tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Mereka bersenang-senang seakan tiada hari esok untuk bermain. Habiskan seluruh tenang, persetan dengan hari esok. Pernah liat anak kecil main dengan sendirinya dan selesai sebelum permainan selesai? Mungkin ada, bagi mereka yang sudah berumur 5 tahun keatas dan sudah termakan rayuan orang tuanya yang mengatakan "Udahan mainnya nanti capek, sakit ga bisa sekolah loh,".

Begitulah, kadang orang tua suka menukarkan kegembiraan anaknya saat ini dengan ancaman tidak bisa merasakan kegembiraan esok harinya.

Baiklah sudah mulai melenceng. Bukan point itu yang saya ingin garis bawahi. Melihat anak kecil bermain itu ternyata saya yang kebetulan sedang lewat dan protes karena waktu itu hari Jum'at saat dimulainya long weekend tapi masih harus menyelesaikan pekerjaan jadi tersenyum sendiri. Tentu tersenyum karena tingkah sepasang anak kecil tersebut. Entah kenapa kebahagiaan mereka seperti menular kepada saya. bahkan sampai sekarang setelah 4 hari momen menunggu lampu merah sekitar 2 menit itupun masih terbekas. Jika ada judul film 3 hari untuk selamanya, mungkin ini adalah 1 menit untuk selamanya. Oke stop, agak berlebihan sampai disini.

Yang menarik adalah momen tersebut masih hinggap di kepala saya sampai sekarang. Jujur saya hendak menuliskan hal ini dari 4 hari yang lalu. Tapi tak kunjung kesampean. Yang mengagumkan adalah biasanya kehilangan ide kalau menunda diri untuk menulis. Tapi tidak dalam hal ini. semakin hari semakin banyak yang ingin ditulis. Semakin ditulis semakin banyak ide berdatangan di kepala.

Baiklah, udah mulai meracau lagi. Langsung ke permasalahan.

Pertanyaan saya dalam beberapa hari ini kenapa kedua anak kecil itu bisa sampai mempengaruhi perasaan saya. Sampai saat saya menulis ini pun saya masih tersenyum membayangkan kegembiaraan dia anak kecil tersebut.

Mungkin ini yang disebutkan oleh beberapa orang kalau kebahagiaan itu menular. Sama seperti bersin.
mungkin bisa dilihat di tautan ini tulisan Andrie Wongso Kebahagiaan Itu Menular. Namun bukan hanya itu. Menurut saya energi positif yang diberikan oleh kedua anak kecil itu sangat mempengaruhi sekitarnya. Mereka tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar mereka. sebaliknya, lingkunganlah yang terpengaruh oleh mereka. Semua mata pengendara, pejalan kaki, pengunjung minimarket sebelah jalan, dan para tukang ojek menatap mereka.

Mungkin ada sebagian yang senang melihat anak kecil tertawa. Mungkin ada yang iri dengan mereka karena mereka bisa main air dengan bebas sementara ada anak kecil yang kalau mau main air harus di kolam renang.

Mungkin kalau adik saya yang kecil melihatnya dia akan merasakan itu. Atau kalau ibu saya melihatnya dia akan memikirkan "ya ampun itu anak kecil ga takut sakit ya main air sembarangan gitu,". Sok tau? Tentu saya tahu jalan pikiran orang yang sudah tinggal bersama selama 23 tahun.
loh kok jadi makin kacau nyinggung-nyinggung orang tua??

Baiklah kembali lagi ke jalan yang benar. Belajar dari keberhasilan kedua anak kecil itu saya berkesimpulan bahwa benar adanya kalau kebahagiaan itu menular. Bahkan mungkin ketika sepasang anak kecil itu sedang menangis efeknya masih terasa kepada orang yang tertularkan.

Ya seperti itulah kebahagiaan. Pernah mendapatkan pemimpin yang bersemangat? Apa punya pemimpin semangat itu membuat anda menjadi semangat bekerja? enggak juga. tapi paling tidak punya pemimpin yang semangat itu memberikan harapan lebih untuk kelompok.

Andai di setiap waktu dan tugas setiap orang bisa mengeluarkan kebahagiaan seperti sepasang anak kecil tersebut tidak akan ada orang yang mengeluh. Tentu tidak akan ada orang mengeluh sakit karena menghabiskan tenaganya seolah-olah tiada hari esok untuk bermain lagi.

Ada yang punya pengalaman yang sama? mari dan silakan berbagi :)

Selamat berhari Senin kawan. Walaupun tulisan ini tidak bisa memperbaiki pekerjaan anda, keuangan anda paling tidak bisa mempengaruhi semangat pikiran anda kalau bersenang-senang bisa dimanapun, bahkan ditempat yang dibilang jorok dan banyak penyakit. apalagi kalau ditempat yang banyak uang dan ada Office Boy yang menjaga kebersihannya 24 jam :D
Selamat berhari senin, selamat makan siang


2 komentar:

  1. wah, aku jadi pengen maen di air mancur itu, om. belom pernah aku ketemu tempat seperti itu.

    air mancur yang elu ceritain itu tu tempat yang airnya keluar kalo diinjek yak? jadi baru muncul kalo ada rangsangan kaki manusia gitu yak? asik dong!

    BalasHapus
  2. bukan diinjek wen, itu mah suka2 air mancurnya mau nongol dimana,
    hehehe

    BalasHapus