Kamis, 15 September 2011

"Wah Selamat ya Dia Orang Yang Terpilih"

Ucapan pada judul diatas sebenarnya baiknya diucapkan pada suasana apa? Pada saat pemilihan ketua organisasi? Pemilihan Presiden? Tetapi pernahkah terpikir jika ucapan itu diucapkan kepada pihak keluarga yang salah satu anaknya meninggal?

Saya akan mencoba mengurutkan bagaimana sistem pemilihan tersebut. Pertama, dalam pemilihan suatu organisasi, para tim suksesnya akan diberikan selamat karena calonnya telah menang dan dipilih oleh anggota organisasinya itu. Kedua dalam hal pemilihan kepala negara tentunya akan ada banyak orang akan memberikan selamat kepada partai yang mendukung dan keluarga atas terpilihnya orang tersebut sebagai Presiden. Bangga bukan. Mengapa hal itu tidak terjadi dalam kematian?

Kematian itu bukan pilihan manusia, Allah SWT lah yang memilih umatnya untuk menghadapnya. Kurang baik apalagi pencapaian umat manusia dibanding yang satu ini? Kematian untuk orang baik menurut saya untuk mencegah dia suatu hari bertindak jahat, sedangakan kematian untuk orang yang jahat untuk mencegah dia berbuat kejahatan lebih jauh lagi.

Kematian itu bukan hanya soal kesedihan, kematian itu juga menjadi ladang rezeki untuk orang lain, jika tak ada orang yang meninggal maka para penggali kubur tidak akan punya uang untuk membiayai keluarganya. Dengan kematian seseorang bisa menyelamatkan nyawa sang penggali kubur dan keluarganya. Sesungguhnya selalu ada sisi baik di setiap kejadian.

kayaknya ada salah kaprah dalam konsep mempersiapkan sesuatu, mempersiapkan itu kan artinya melakukan sesuatu untuk persiapan menyambut sesuatu. Misalkan ada keluarga yang mempersiapkan baju-baju bayi yang lucu untuk calon anaknya yang ada di dalam kandungan, dan orang tua yang mempersiapkan jas dan kebaya untuk mendampingi anaknya yang akan diwisuda.

Ya itulah mempersiapkan, lalu dimana salahnya? bukan salah sebenarnya, cuma ada sesuatu yang kurang untuk dipersiapkan, kelahiran anak dan wisuda anak itu merupakan suatu yang akan terjadi, tapi masih ada kemungkinan gagal. Ketika anda mempersiapkan diri anda untuk menyambut anak anda lahir kedunia dengan segalam macam peralatannya anda akan merasa sedih karena yang telah anda persiapkan untuk anak anda menjadi tidak berguna ketika sang ibu mengalami keguguran dan sang cabang bayi tidak jadi lahir. Mungkin akan keluar omongan entah dari siapapun itu, "sayang banget yah, padahal udah dipersiapin".

Hal yang sama juga akan terjadi ketika seorang anak ternyata Drop Out atau kehabisan masa studinya di universitas, padahal para orang tua telah mempersiapkan jas dan setelan kebaya untuk menghadiri acara wisuda anak mereka tersebut. Selalu ada kekecewaan jikasesuatu yang kita persiapkan secara matang mengalami kegagalan.

Tetapi hal ini tidak akan terjadi dengan kematian, kematian itu suatu yang pasti, yang membedakan itu hanyalah waktu, cara dan tempatnya saja. Kalau kita menyamakan persepsi dengan kedua kejadian diatas mungkin harusnya ada ucapan "yaaah ga jadi meninggal, padalah udah dipersiapkan semuanya".

Bukankah lebih baik kita mempersiapkan diri untuk sesuatu yang pasti daripada yang tidak pasti? Yang menyebabkan kesedihan mungkin hanya ketidaksiapan diri kita untuk menerima kehilangan. Orang tua saya selalu mengatakan ini yang harus kamu lakukan kalau papa meninggal, kamu haus ini, itu  oleh karena itu dari sekarang kamu harus belajar ini, itu. Jadikanlah kehilangan kami kelebihan untukmu, kami pun tak mau jika dalam keadaan meninggal pun kami masih menjadi beban.

Mungkin akan indah jika saya meninggal dan orang-orang datang dengan tersenyum ke pemakaman saya karena saya orang yang terpilih :)


In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.



-- Brian Massumi

Rabu, 14 September 2011

Karena Nilai Setitik Rusak Pendidikan Sebelanga

Beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengan bapak saya ketika sedang berada diperjalanan menuju ke bandara.
"Pa gimana si ade raportnya?"
"Jelek raportnya, rata-rata paling 6,5, cuma ada satu atau dua nilai yang nilainya di atas nilai rata-rata kelasnya."
Setelah itu mulailah kami membicarakan tentang presati akademik adik-adik saya dan saudara-saudara saya dan bagaimana kira-kira jadinya nanti mereka. Dikarenakan saya merupakan anak pertama jadi otomatis semua patokan nilai ada di saya. Saya pernah mendengar suatu kali salah satu orang tua berkata kalau misalkan adik saya tidak cukup pintar untuk dapat masuk universitas negeri atau lulus yang namanya SMPB waktu jaman saya ikut. Sedih sih denger orang terdekat kita meremehkan kemampuan kita, tapi saya juga pernah punya persepsi sama seperti itu. Mungkin melalui tulisan ini saya sekaligus meminta maaf kepada adik saya tentang persepsi saya itu. Hal itu dikarenakan pengetahuan saya saja yang kurang tentang intelligence.

Baru saja saya membaca buku yang sudah sekitar setahun saya beli, judulnya Rich Kid Smart Kid karangan Robert T Kiyosaki. Sebuah buku yang saya baca dengan terlambat setelah persepsi saya terbentuk, tapi terlambat lebih baik bukan daripada tidak berubah. 

Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind mengidentifikasi bahwa ada tujuh kecerdasan yang berbeda. Saya ga akan menulis ketujuh-tujuhnya karena nanti yang anda baca adalah penafsiran saya tentang tujuh kecerdasan tersebut bukannya apa yang Howard Gardner tulis, so selamat mencari :)

Intinya yang dipakai untuk mengukur kadar seseorang itu pintar atau tidak itu di zaman sekarang ini adalah kecerdasan linguistic-verbal yang merupakan kemampuan bawaan seseorang untuk membaca dan menulis kata-kata. 

Jika linguistic-verbal hanya merupakan satu dari tujuh buah kecerdasan yang ada mengapa kita harus menghakimi seseorang dari satu sisi saja, tidak dari enam sisi kecerdasan lainnya yang mungkin dimilikinya? ya itulah yang saya lakukan terhadap adik-adik saya, dan untuk itu saya mohon maaf sekali lagi. 

Yang menjadi masalah ketika anda menilai seseorang adalah sikap anda ke orang tersebut. Mari kita berandai-andai, jika anda menemui seseorang dengan muka judes dan seseorang dengan muka yang ramah manakah yang kira-kira akan anda pilih untuk diajak mengobrol terselbih dahulu?

Kebanyakan orang melakukan segala sesuatu menggunakan persepsinya sendiri, memang bukan merupakan suatu kesalahan, tapi apabila orang yang bermuka judes tersebut merupakan seseorang yang ternyata ramah dan sangat baik sedangkan orang yang bermuka ramah itu adalah tipe seorang penjahat apakah itu bukan sebuah kesalahan untuk anda/ 
Kita tidak memilih bagaimana bentuk rupa kita dan kecerdasan kita ketika dilahirkan, alangkah baiknya jika kita memberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan persepsi yang sama tentang dirinya dari diri kita.  Kita ambil lagi contoh adik saya (karena mungkin itu satu satunya contoh yang saya mau).  Setiap manusia pasti ingin memberikan atau paling tidak merasa dianggap sebagai sesuatu baik itu di dalam lingkungan sosial ataupun keluarga. Masalahnya datang ketika kecerdasan yang adik saya punyai itu bukanlah kecerdasan yang dianut atau dianggap ada oleh keluarga saya? Lalu apa yang dia lakukan? Ya tentu saja melakukan yang terbaik supaya mendapatkan perhatian dengan menggunakan nilai-nilai yang dianut oleh kedua orang tua saya walaupun itu sebenarnya bertentangan dengan kecerdasan yang dimilikinya.

Apakah pembelajaran itu akan efektif jika seseorang pemain sepakbola diajarkan untuk selalu membaca buku tentang sepakbola?

Itulah sebuah pengantar yang cukup panjang, mari kita kembali ke judul tulisan ini. Sebenarnya apa sih tujuan pendidikan itu? Dalam GBHN sebenarnya pendidikan di Indonesia itu mendidik pekerja yang siap guna. Lihat kan? Siap guna. Oleh karena itu jika nilai anda hancur maka anda tidak akan bisa digunakan. Kembali lagi ke tujuh jenis kecerdasan adilkah jika seseorang dinilai dari satu sisi jika setiap orang mempunyai tujuh sisi? Sangat buruk di satu sisi bukan berarti seseorang tidak genius di sisi lainnya bukan?

Sebenarnya banyak yang ingin saya tulis, tapi dikarenakan hari sudah mencapai pukul enam sore dan di keluarga saya pukul enam sore itu merupakan waktu yang sakral maka saya akan menyudahi tulisan saya ini, mungkin suatu saat nanti saya akan melanjutkannya kembali, terima kasih telah membaca dan terima kasih yang teramat sangat untuk komentarnya :)

In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.



-- Brian Massumi


Senin, 07 Februari 2011

Narasi Tragedi Cikeusik

Paling tidak ada tiga orang tewas dalam serangan terhadap jemaat Ahmadiah di Cikeusik. Dari beberapa forum saya membaca bahwa kedua belah pihak sama-sama mempunyai pembelaan terhadap posisi mereka. Ketika salah seorang pihak dari Ahmadiah mengatakan bahwa mereka diserang salah satu pihak yang merasa ada keluarganya di tempat kejadian mengatakan bahwa warga menyerang karena salah satu warga tangannya terluka.

"Dalam peristiwa itu, seorang warga Desa Umbulan, Sarta, mengalami luka parah di lengan kanannya oleh senjata tajam. "Lengan kanan Sarta hampir putus dibacok oleh anggota Jamaah Ahmadiyah," kata Lukman.

Lukman menjelaskan, sebenarnya warga tak bermaksud melakukan kekerasan dan hanya ingin agar Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik pimpinan Parman membubarkan diri."

Di atas adalah sepenggal kutipan yang saya ambil dari kaskus. Sumber. Itu adalah argumen warga yang ada di Lokasi yang di wawancarai, dan dari pihak Ahmadiah mengatakan mereka hanya bersilaturahmi, masa silaturahmi ga boleh? 

Dari Pihak Kepolisian berkata mereka telah memperingatkan mereka, tetapi para jemaar Ahmadiah berkata bahwa mereka bisa membela diri mereka sendiri. Dari pihak Ahmadiah mengatakan bahwa mereka telah meminta polisi untuk melindungi mereka.

Pembelaan demi pembelaan akan terus kita dengarkan kalau kita mengikuti hal ini secara terus menerus. Sifat alami manusia untuk membela dirinya sendiri. Membela diri yang saya bicarakan disini bukan berarti saya mengartikan mereka salah atau benar. Setiap orangpasti punya alasan sendiri untuk melakukan sesuatu seperti memukul, menikam dan membicarakan seseorang. Setiap orang juga pasti mempunyai keberpihakan. Karena tidak ada yang netral di dunia ini. Bahkan ketika saya menjelaskan kejadian yang terjadi pada orang yang tidak saya kenal pun saya akan mempunyai keberpihakan ke pihak tertentu, yaitu ke pihak yang saya anggap lebih benar.

Adu argumen mungkin bukan sesuatu yang perlu dilakukan lagi, karena sudah jelas keputusannya bahwa Ahmadiah sudah dinyatakan menyimpang dan dinyatakan sesat oleh MUI indonesia. Tidak ada keraguan lagi dalam hal itu.

Tetapi, apakah negara bisa mengatur apa yang difikirkan oleh rakyatnya? Di negara ini bebas berpendapat bukan? Ketika saya bilang Komunis itu baik tidak ada yang akan menangkap saya bukan? Kalau saya berteriak teriak dan menyatakan saya seorang komunis sejati di jalan bukankan itu tidak melanggar hukum? Dan kalau saya mempunyai kepercayaan bahwa tuhan itu tidak ada apakah pemerintah akan menangkap saya?

Kadang saya bingung dengan negeri ini, Negeri ini punya perundang-undangan yang sangat rumit dan lengkap jikalau dibandingkan dengan negara-negara lain, tapi masih banyak pula masalahnya. Yang dilarang itu adalah menyebarkan ajaran agama yang kita anggap  sesat itu bukan? tetapi bukankah kita masih bebas berkumpul dengan siapapun yang kita mau. Saya mencoba netral dalam menulis ini, tapi yang terjadi saya malah membela pihak Ahmadiah bukan? Itulah kenapa saya sebut selalu ada keberpihakan di dalam menulis.

Oh iya, hampir terlupa oleh saya. Mungkin ini tulisan terakhir saya. Mungkin sehabis ini orang orang akan datang ke kamar kost saya dengan membawa benda benda tajam dan segera menghajar saya sampai nyawa saya meninggal. Lalu mereka akan bilang ke polisi bahwa saya mengancam keimanan masyarakat sekitar karena menulis tentang ini. Perihal mereka membunuh saya mereka akan mengatakan bahwa saya mengacung-acungkan golok dan senjata tajam kepada mereka sehingga mereka naik pitam dan langsung menghajar saya. Lalu semua orang percaya, tentu saja. Siapa yang bisa mereka mintai keterangan lagi? Saya sudah mati dan tidak bisa ditanyai. Kalau saya menulis lagi, itu tandanya saya belum mati.

Aaah sampai lupa saya kan membahas tema utama saya, hampir saja saya terjebak lagi oleh narasi yang narator bentuk itu. Begini saja, saya akan menyakatan pendapat saya secara langsung. Menurut saya masalah ini tidak akan terpecahkan, kekerasan atas nama suatu agama akan selalu menghiasi koran-koran dan berita di televisi kedepannya. Dalam kuliah saya, saya dijarkan sesuatu yang bernama durasi. Bagaimana di dalam novel narator mengalihkan sudut pandang pembaca melalui pembahasan yang tidak proporsional. Disitu bisa terlihat bagaimana suatu masalah kecil bisa muncul dan dibahas dengan begitu banyaknya untuk mengalihkan konsen yang ada pada pembaca kedalam hal yang remeh, sehinga masalah utama dalam novel tersebut bisa ditutupi oleh narasi yang dikeluarkan narator dengan menaikkan durasi hal-hal lain.

Mungkin saja ada narator yang memelihara hal-hal yang bisa dijadikan narasi baru untuk menutupi narasi yang lain. Narasi yang kadang keluar dari kendali narator. Maka dibuat olehnya lah narasi tersebut, dinaikkan durasinya sehingga seolah-olah hal-hal lain dibalik itu menjadi terlupakan. 

Berhasilkah? itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan susah payah dan argumen yang panjang. Berapa kasus besar yang ada di negara kita saat ini? Satu hal yang bisa kita cermati sebagai pembaca narasi yang baik untuk mendapatkan kesimpulan apa narasi besarnya adalah dengan mencari gejala apa yang muncul sebelum adanya narasi yang baru.


In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.



-- Brian Massumi

Sabtu, 05 Februari 2011

"You are what you tweet"

"You are what you tweet."
Beberapa waktu lalu saya menyadari hal itu. Twitter, si situs yang hanya menyediakan 140 karakter untuk menulis kicauan anda, bisa sangat mempengaruhi gambaran diri anda. Memang tidak adil seseorang di adili dengan menggunakan 140 karakter yang dia tulis. Kita bisa menghakimi orang dengan 140 karakter saja, dan sebaliknya, kita juga bisa dihakimi oleh orang dengan hanyan 140 karakter saja.

Mari kita mundur sejenak, membahas masalah lain yang berkaitan. Dalam sebuah novel ada yang disebut dengan Narasi, Narator dan Author. Narator adalah orang yang menceritakan bagaimana suatu kejadian yang terjadi di dalam sebuah novel, dan narasi adalah segala sesuatu yang diucapkan oleh narator. Ada satu bagian lagi yang disebut dialog. Tentu anda tau dialog bukan. Kalimat yang dikurung dalam tanda kutip.

Lalu apa korelasinya antara segala sesuatu yang ada di situs dengan 140 karakter itu? Kenapa kicauan yang hanya 140 karakter itu bisa membuat seseorang menyimpulkan bagaimana gambaran seseorang yang di follow olehnya. Memang jika kita melihat satu kicauan saja di twitter tidak akan merubah apa-apa. Sama hal nya dengan novel, Membaca satu halaman saja tidak akan memberikan gambaran apapun terhadap novel tersebut.

Bagaimana seseorang bisa dilihat karakternya adalah dengan membaca keseluruhan narasinya. Narasi yang dituliskan narator dari akun tersebut. Dengan melihat secara keseluruhan anda dapat mendapatkan gambaran bagaimana narator itu bersikap dan melihat kecenderungannya bersikap. Di dalam novel narator lah yang mengendalikan apa yang akan ditulis sebagai narasi dan apa yang akan dia tulis sebagai dialog. Hal ini bisa menimbulkan interpretasi tersendiri bagi pembaca. Berikut ini hanyalah sekadar contoh dari sebuah novel. Judulnya Across The River and Into The Trees. Sebuah novel karya Ernest Hemingway.


“I never cry,” the girl said. “Never. I made a rule not to. But I would cry now.”
“Don’t cry,” the Colonel said. “I’m gentle now and the hell with the rest of it.”
“Say once again that you love me.”
“I love you and I love you and I love you.”
“Will you do your best not to die?”
“Yes.”
“Not worse?”
“No,” he lied.

Kutipan diatas adalah percakapan antara tokoh laki-laki dan wanita di dalam novel tersebut. Kutipan ini kebetulan masuk ke dalam skripsi saya yang membahas tentang maskulinitas. Tidak ada salahnya untuk sekadar berbagi disini.

Baiklah, kita lanjutkan. Apa maksud dari kutipan di novel tersebut? Ketika yang disuguhkan dalam novel tersebut hanyalah kutipan kutipan pembicaraan tu akan lebih sulit untuk menentukan bagaimana sikap narator terhadap tokoh tersebut. Tetapi ketika di baris akhir narator dalam cerita itu masuk, pembaca menjadi lebih mudah untuk menilai keberpihakan narator. 

Dalam kutipan tersebut yang saya berikan perhatian secara garis besar adalah ketika narator memberikan statement bahwa tokoh laki-laki di dalam novel tersebut berbohog untuk menenangkan perasaan sang wanita. Dalam kutipan di atas terlihat bagaimana narator ingin karakter Kolonel digambarkan. Dari kecenderungan bahwa narator ingin karakter kolonel digambarkan dalam bentuk tertentu itulah bisa di ambil kesimpulan bahwa narator mempunyai keberpihakan terhadap tokoh kolonel dalam novel tersebut. Itulah sebuah contoh bagaimana narasi dari narator bisa kita baca dan mengukur kadar keberpihakannya.

Lalu apa hubungannya dengan kicauan-kicauan di twitter? 

Di Twitter andalah author tersebut. Ungkapan You are what you tweet mungkin bisa dibilang benar adanya. Lalu apa gunanya membahas novel tersebut dan membahas kecenderungan narator?
Untuk pertanyaan di atas mungkin akan lebih baik jika saya memberikan gambaran terlebih dahulu. Ada kejadian baru baru ini, namanya Koin Untuk SBY. SBY mungkin tidak bertujuan untuk mengeluhkan gajinya, pernyataannya pun bentuknya sebagai bentuk motivasi untuk para tentara agar bekerja yang giat tanpa memikirkan gaji. Hal itu langsung direspon oleh rakyatnya dan anggora dewan yang terhormat. Tetapi sayang arah tujuan pembicaraannya menjadi ke arah yang salah. Masyarakat mengira itu sebagai bentuk keluhan bahwa pak SBY meminta untuk naik gaji. Paling tidak Menteri Keuangan kita pun berfikir begitu, karena beliau langsung merespon pernyataan presiden kita tersebut. Itu adalah sebuah bentuk narasi yang dikeluarkan oleh Presiden kita. bagaimana dia bertindak sebagai Penulis atau dalam bahasa Inggris disebut Author, dan kita bisa mengukur sikapnya, apa yang dia inginkan dan apa yang ingin dicapainya.

Ada hal yang terlupa untuk saya jelaskan. Narator itu itu adalah kepanjangan tangan dari penulis (selanjutnya disebut author). Ada Dua jenis author, yang pertama adalah Real Author dan Implied Author*. Author yang baik tau bagaimana dia menarasikan dirinya untuk menyampaikan maksudnya sehingga bisa tercapai tujuannya. SBY mungkin juga dalam pidatonya tersebut berperan sebagai implied author untuk dirinya sendiri, atau mungkin dia hanya sebagai implied author bagi real author, yang kita tidak tahu siapa itu. 
Kita cukupkan membahas SBY sampai disini saja. Lalu apa hubungannya ke status di twitter? kembali lagi masalah itu yang menjadi pertanyaan.

Dengan tahu bagaimana orang atau sesuatu bernarasi kita juga tau akan efeknya jika menggunakan analisis tersebut pada diri kita. Tentang bagaimana SBY tau bagaimana dia harus menarasikan dirinya sendiri dan membuat orang lain menarasikannya. Ini hanyalah prasangka buruk saya, tetapi sudah seharusnya seorang presiden tau kalau himbauan seorang presiden itu bentuknya berbeda dengan himbauan rakyat biasa. Ingat beberapa kejadian kecuali masalah korupsi selesai setelah ada HIMBAUAN dari presiden? Kalau memang dia sadar dengan hal ini maka SBY telah menjadi implied author untuk dirinya sendiri. Dia mengatakan itu karena itulah keinginan real author. Sisi lain dari SBY yang menginginginkan hal yang terjadi sekarang ini, yaitu kenaikan gaji. Kenapa jadi ke SBY lagi y? itu hanyalah sebuah contoh, bukan kenyataan. 

Kalau anda mengerti bagaimana implied author dan real author bekerja anda juga harus sadar bagaimana orang mencitrakan anda jika anda menulis sesuatu di twitter anda.  Dengan mengetahuinya anda bisa tahu bagaimana caranya anda bisa membentuk pencitraan anda melalui twitter. Hal itulah yang dilakukan politisi-politisi sekarang untuk membangun citra bahwa mereka ingin yang terbaik untuk bangsa ini dan berbagai macam tujuan mulia mereka. Tapi siapa yang tahu kalau mereka hanyalah implied author untuk real author atau memang benar-benar seorang real author.

Contoh yang saya berikan di atas hanyalah mengambil dari salah satu kutipan saja, bukan secara keseluruhan. Jangan membuat ungkapan bahwa you are what you tweet menjadi benar, tapi buat ungkapan itu menjadi you are what you want people to tell what you are.

Komentar anda akan sangat hargai, baik atau buruk iti tetap baik untuk saya.

*Untuk lebih lengkapnya bisa baca Story and Discourse "Narrative Structure in Fiction and Film" karya Seymour Chatman



In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.



-- Brian Massumi

Jumat, 04 Februari 2011

Puasa Ramadhan oh Nasibmu

ketika seseorang berpuasa dia dituntut untuk berpuasa dia juga dituntut untuk menahan hawa nafsunya.  Suatu kali dan banyak kali imam-imam yang memberi ceramah itu pernah berkata bahwa puasa adalah kegiatan yang berhubungan langsung dengan Allah SWT, tanpa diketahui seorang pun. Lagi, menurut mereka ketika kita berpuasa tidak ada orang yang melihat atau mengetahui kita sedang berpuasa, tidak seperti ibadah yang lainnya, ketika kita sholat, kita terlihat orang, ketika kita zakat, orang tau kalau kita mengeluarkan zakat.
Orang-orang pun sangat bergembira menyambut datangnya bulan suci ramadhan, katanya itulah tempat kita  melebur dosa-dosa kita ( walaupun masih katanya ). Semua supermarket menyambut bulan ramadhan dengan semarak, diskon dimana-mana, tapi tentunya sebelum di diskon 50% harganya dinaikkan dulu 100%. Stasiun televisi pun berlomba-lomba menyuguhkan acara-acara yang bertema Ramadhan, baik saat sahur, saat menjelang berbuka, dan juga saat orang-orang sholat tarawih.
Ya itulah Ramadhan dan puasa. Bukan Ramadhan dan puasa seutuhnya, tapi itulah Ramadhan dan puasa yang sedang tren di negara tercinta ini. Bulan puasa dimana kita diharuskan menahan hawa nafsu malah ada kejadian dimana orang-orang yang memakai nama agama yang mengajarkan puasa mengikuti hawa nafsu mereka. Saya setuju kejahatan, kekafiran atau apapun yang kalian sebut itu harus diberantas, tentu saya sangat setuju. Tapi ini bukan negara kalian, saya menyarankan bagaimana kalau mereka membeli salah satu pulau ( kalau mereka punya uang) tapi pastinya mereka punya uang, karena orang dibelakang mereka pasti punya banyak uang untuk menghidupi anggota-anggotanya,  di bagian terluar, atau dimanapun, dan bentuk negara sendiri.
Modal diakuinya sebuah negara yang berdaulat adalah dengan adanya proklamasi dan pengakuan dari negara lainnya. Mereka punya modal kuat karena mekera pasti punya banyak dukungan dari orang Indonesia kalau mereka bukan penduduk Indonesia, dalam artian mereka adalah sekumpulan individu yang bebas, tanpa terikat ( dan memang dikarenakan mereka selama ini bebas mau berbuat apa saja tanpa ada konsekuensi), dan mereka pasti segerombolan orang, jadi kenapa tak bentuk negara sendiri, yang pasti akan lebih baik negara baru kalian itu. oh tapi saya lupa karena negara Indonesia ini juga milik mereka, mereka adalah orang-orang yang sangat menjunjung tinggi kebebasan mereka. Mereka orang yang sangat menikmati kebebasan di negeri ini, mereka orang yan gbisa berbuat anarkis tanpa ada tindak lanjut atau takut akan dipenjara. Baru-baru ini ada mahasiswa ditangkap ketika berdemo, dikatakannya provokator, ketika mereka mengusir seorang anggota DPR karena dianggap menghadiri temu kangen  kader PKI kenapa jadi mereka yang melaporkan anggota temu kangen itu? memang temu kangen itu dilarang di Indonesia y? dalih karena itu bisa membangkitkan komunisme pun dijadikan alasan untuk melakukan tindakan semena-mena, apakah Komunis itu dilarang di Indonesia? saat ini tidak sepertinya. Satu-satunya yang tidak ingin atau melarang Komunis adalah negara yang tidak takut komunis itu berkembang, oh mungkin dananya dari negara itu y?  justru ini adalah negara demokrasi dengan faham komunis yang sangat kental.
membahas mereka membuat saya melupakan topik utama, puasa, menahan godaan untuk tidak m enulis tentang mereka jauh lebih berat daripada menahan haus dan lapar. oke mari kita lanjutkan. Puasa di bulan Ramadhan ini sesungguhnya menjadi puasa yang lebih baik daripada puasa-puasa sunah. Lebih baik danlebihmudah tentunya, karena tempat-tempat makan dan yang kata mereka tempat maksiat ditutup, alasannya untuk menghormahti orang berpuasa. Kenapa orang berpuasa perlu dihormati? bukankah puasa itu urusan kita pribadi? kenapa puasa harus mengorbankan pencarian orang? dan kenapa puasa harus mengorbankan hak orang yang berkeyakinan lain?
Puasa menjadi suatu paksaan bukan lagi menjadi suatu keinginan, orang berpuasa karena tidak ada yang buka ketika siang hari, banyak contoh kasus seperti itu, dan orang yang berkeyakinan lain pun terpaksa harus ikut puasa, karena hak mereka untuk membeli makanan terenggut. Puasakah seperti itu? Berpuasa karena memang tidak bisa makan dan minum atau karena berpuasa dan menahan hawa nafsu karena kita bisa makan-minum dengan bebasnya tapi kita memilih tidak melakukannya?



Ini hanyalah sebuah racauan, baik buruknya bagaimana anda menilainya. Yang baik untuk saya adalah anda memberikan komentar untuk merangsang saya menulis lebih baik lagi.
In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.


-- Brian Massumi

Masturnotes

it's all about "Mastur-"
the following definitions come from www.urbandictionary.com

Masturdating: Going out alone. I.e. seeing a movie by yourself, going to a restaurant alone.
Going out alone. I.e. seeing a movie by yourself, going to a restaurant alone.

Masturday: When someone engages in nothing more but in acts of musturbation all day long.
Friend 1: "Has Gupta come out of his room yet?"
Friend 2: "Naw, today is his masturday."


Masturbatorium: A location frequently used for one's own masturbation, usually adorned with the fixtures for self stimulation such as pornography, and other turn-ons.
Jeff whacked off in his masturbatorium full of pictures of obese women and Bill Gates.

Masturcheating: Masturdating while being married or in relationship - eating out, going to see movies, eating ice cream alone, when your spouse or partner doesn't show any interest for such activities.
Darling, why don't we go and see Twilight Eclipse together? I'm sick of masturcheating on you.

Masturcrying: simultaneously crying and masturbating from the same stimulus, often considered the most pathetic act a human can perform.
When I saw Naomi Watts masturcrying in "Mulholland Drive," I got a woody even though it was wrong.

Masturdate: Masturbating before a date so you don't think about sex the whole date. As seen in "There's Something About Mary."
Jim: Dude, are you ready for this double date with Crystal and Lisa? 
Jack: Yeah. Just let me masturdate first. Lisa's so hot, I don't want to ruin this!

Masturdebatable: Debating what pornographic movie/video to watch when preparing to masturbate.
It was masturdebatable whether to watch "Ass Jacked at Cock Point" or "Back Door Sluts 18"

Masturfaker: A guy who claims he doesn't masturbate.
"Jimmy says that he doesn't masturbate." 
What a masturfaker!"

Masturbatron: An incredibly shy transformer who isn't seen in any films because he is constantly masturbating.

Masturthesis: Doing masturbation when you think about thesis :|

Kamis, 27 Januari 2011

Bangsat

"Udah pada bubar belom?"
Bingung entah ada angin apa, tiba tiba ada pesan masuk dari Ikal yang bunyinya seperti itu.

"bubar apaan kal? ditanyain Rijal tuh helm nya dia dimana"

Setelah menunggu sekian lama, tak juga ada balasan masuk ke handphone saya. Setelah agak lama menunggu datang pesan masuk.

"Ok.. Mau ga'gw ada nih...he.3x."

Makin tak mengerti arah pembicaraan ini saya pikir.

"Apaan si?
Kaga ngarti gw,
ckckck"

setelah menunggu lagi, ternyata tidak ada balasan sama sekali.

Masih teringat ketika tadi sore Ikal pergi ke meminjam helm kawan saya Rijal untuk pergi menjemput teman saya Kekal. Atas dasar pertemanan teman-teman saya memang tidak berkeberatan jika harus menjemput dan mengantar orang, sepanjang tidak hal yang sedang dilakukan. Pergilah kawan saya itu setelah meminjam helm Rijal yang kebetulan ditaruh di kamar saya.

Sekitar jam 7 malam, datanglah Ikal ke kamar saya, raut mukanya terlihat amat pusing. "Lah mana si Kekal? jemput dia dimana lw?"

"di Cibiru tadi" katanya.

"eh lw tadi sms bubar, bubar apaan dah?"

"mana smsnya? gw kaga sms lw sama sekali."

Saya perlihatkan sms yang saya terima dari dia. Diam dia sejenak memperhatikan tulisan di handphone saya itu, dilihatnya Pesan Terkirim dan Kotak Masuknya. Tiba-tiba berdiri dia, berjalan ke arah pintu meja, melihat ke arah luar jendela, dan hendak mengunci pintu. Pintu kamar saya memang agak susah untuk di kunci, karena memang posisi jantan dan betina slot kunci itu tidak terlalu sama. Tetapi terlihat jelas di raut wajahnya bahwa kesusahannya menutup pintu kamar saya menyiratkan ada sesuatu yang ingin disampaikannya.

Saya pun membantunya untuk menutup pintu kamar saya itu. Duduklah kami saling berhadapan, memang tidak benar benar berhadapan, saya menghadap sedikit ke komputer saya.

"Tadi yang sms lw tuh bukan gw, gw ga pernah sms lw"

"Waduh??" sudah agak terbaca arah raut wajah kawan saya tadi.

"Tadi tuh gw dibawa ke rumah sakit buat tes urin, di Hasan Sadikin."

Fikiran saya masih tenang saat tau kejadiannya seperti itu, karena saya tau kawan saya yang satu ini bukanlah pemakai, setidaknya dalam 2 tahun ini.

"Positif."

"hah??" Keyakinan saya sekejap hilang mendengar ucapannya itu. "loh kok?"

"Nah itu dia yang gw bingung. Tadi gw dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, buat di tes urin, gw liat sih alatnya, gw liat semuanya, tapi kan ga mungin gw positif. Pertama sih gw udah curiga kenapa mesti kesana, maksud gw kan banyak rumah sakit laen, Ga usah sampe jauh-jauh kesana."

"Tunggu-tunggu bentar, lah lw gimana caranya bisa sampe cibiru trus diabawa?" heran saya melihat dia bisa sampai disana.

" jadi gini, tadi Kekal sms nih, isinya nanya tapi gini isinya. "ente dimana? bisa jemput ane ga?". Terus gw bales tuh, itu ke nomor AS nya, tadi gw telfon ke no M3 nya, tapi ga keangkat, gw telfon ke AS nya dibalesnya sama dia, katanya mic hpnya rusak. Abis itu ada sms lagi masuk dari no M3 nya, katanya dia lagi nganterin nyokapnya aci, makanya tadi ga ke angkat. Tapi pas itu gw udah dibawa sama orang itu."

Sejenak saya mencerna perkataan kawan saya ini. " trus gimane?"

"Gw pas di alfa itu smsan, sebelum nyampe, dia nanya, gw dimana, udah sampe mana. Tapi bahasanya aneh. Gw juga ga merhatiin lagi kan, orang lagi dijalan juga gw. Sampe depan alfa itu di datengin gw. Gw tanya kan siapa, trus dilitain lah itu tanda bintang. Yaudah ikut akhirnya gw."

"Tunggu tunggu bentar, kok dia bisa make no nya si Kekal?" tanya saya, agak bingung dengan bagian cerita yang ini.

"Ternyata tuh dia kemaren kena juga, kalo gw sih curiganya gitu"

"yaudeh tar tanya aja ama bocahnya, lah trus gimana nasib lw ketauan positif? kok bisa kesini lw?"

"Abis di tes itu puyeng gw, kok bisa positif, makin bingung kan gw. Dia nya minta damai."

"Trus?"

"Gw kasih lah itu semua duit yang di ada di tabungan gw, duit bayaran gw buat itu, sama duit jajan gw."

"anjing!" kontan cuma kata-kata itu yang keluar dari mulut saya. "Lah trus lw mau gimana sekarang?"

"Persetan lah sama uang itu, biarin aja lah dimakan sama dia, biar jadi bangke dalem perutnya."

"Trus lw bayaran kuliah gimana?"

"Biarin lah nanti dipikirin gimana, makan numpang numpang aja lah sama anak-anak"



In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.


-- Brian Massumi

HBD WYATB

Racauan saya ini bermula di Twitter saya @omalfin. Racauan saya tentang ucapan ulang tahun di di Facebook, dan mari kita bahas kembali, secara lebih mendetail.

Sudah lama saya sadar teman saya di facebook berulang tahun hampir setiap hari. Teman saya di facebook saya ada 832. Teman di facebook saya adalah teman yang benar-benar teman, artinya saya kenal mereka melalui dunia nyata, bertemu, bercengkrama.
"menulis selamat ulang tahun ga lebih mahal kan ya daripada nulis HBD di wall facebook atau di twitter?"
Itulah kicauan pertama saya di twitter tentang ucapan selamat ulang tahun. tulisan itu berangkat dari hasil candaan saya dengan beberapa teman yang dan dengan seorang teman saya yang berulang tahun. Ketika itu teman saya yang sedang berulang tahun menerima ucapan selamat ulang tahun melalui sms yang isinya "HBD".
"apa-apaan nih sms cuma HDB doang?? macam pake 3sia aja di itung per karakter." jawab seorang teman saya yang lain.
"tolong balesin dong." Kata empunya hajat
"bales apa?"
"Y"
Tertawa saya mendengar balasan dari teman saya itu, tapi memang pantas, mau nulis sms kok kayak nulis telegram.

Kita tinggalkan tentang kisah teman saya yang berulang tahun. Kita kembali ke topik permasalahan. Entah siapa yang memulai tapi setelah menelaah beberapa profile teman saya yang sedang berulang tahun saya melihat beberapa kesamaan.

Pertama, ucapan selamat ulang tahun tidak lebih dari 5 kata, dan banyak pula yang hanya menuliskan singkatan singkatan seperti yang saya tulis di akun twitter saya, seolah untuk menulis lebih banyak kata dan lebih banyak kalimat itu adalah sesuatu yang mahal.

Saya punya sedikit perkiraan yang mungkin bisa sedikit menjelaskan bagaimana semua itu bisa terjadi. Di pojok kanan atas ada tulisan "event". Dari situlah kecurigaan saya berasal, ketika seseorang membuka akun facebooknya mungkin mereka merasa tertekan karena mereka merasa tahu bahwa teman mereka di facebook sedang berulang tahun, dan dogma yang beredar bahwa kalau ada orang yang berulang tahun maka haruslah diberi selamat. Mungkin itulah yang mendorong adanya simplifikasi dan berbagai macam modifikasi terhadap cara pengucapan, agar terlihat ringkas, padat, dan tepat sasaran. *bagus ya bahasanya

Tetapi notifikasi tidak selalu bersifat baik, memang notifikasi di facebook itu sangat baik untuk orang yang sedang menjadi gerilyawan untuk mendapatkan perhatian atau mencari tahu tentang seseorang, tetapi disisi lain notifikasi tersebut juga menurunkan kadar "makna" dari ucapan tersebut. Karena sesuatu yang spesial adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh semua orang. Berlian menjadi sangat spesial karena tidak semua orang bisa memiliki berlian, kita harus mengeluarkan usaha terlebih dahulu.

Hal itulah yang terjadi pada ucapan ulang tahun sekarang ini. Berlian-berlian tersebut turun kastanya, karena semua orang bisa memilikinya, semua orang bisa mengucapkannya, semua orang yang membuka akun facebooknya bisa mengetahuinya.

Baik memang, tapi menurut saya hal itu menurunkan kadar kespesialan ucapan selamat ulang tahun tersebut. Selain itu juga itu menutup peluang seseorang untuk lupa akan hari ulang tahun seseorang. Berapa banyak acara kejutan yang gagal hanya gara-gara seseorang sudah tau bahwa dia dikerjai karena dia sadar teman-temannya membuka facebooknya dan mengetahui kalau hari itu dia berulang tahun.

Pernah punya pengalaman waktu SMP (waktu saya smp belum ada friendster, Facebook, atau mungkin sudah ada tapi saya dan teman-teman saya belum tahu) diberi kejutan karena anda berulang tahun. Istimewa bukan, karena mereka mengingat tanggal ulang tahun anda, memberikan perhatian lebih kepada anda. Indah bukan karena teman teman saya mengetahui info anda dari tanda yang ada di kalendernya atau di dalam diarynya.

Dengan menonaktifkan notifikasi ulang tahun di facebook membuat anda memberikan kesempatan lebih kepada orang-orang yang memberikan perhatian lebih kepada anda untuk menjadi spesial dimata anda. Karena mereka mengucapkan selamat kepada anda bukan karena ada tulisan di pojok kanan atas beranda Facebooknya, mereka mengucapkannya karena mereka peduli dengan anda.
Pernahkah sekali kali anda membandingkan ucapan ulang tahun yang datang di Facebook anda dengan yang pernah anda terima 4, 5 atau beberapa tahun yang lalu? manakah yang menurut anda lebih punya "nilai tambah".
Berikut ini saya cantumkan beberapa komentar teman-teman saya yang saya dapat dari akun twitter saya.


 Shellya Febriana A.
@ Kalo notif ultah di off, jadi bener2 tau sapa yg emang inget ultah ama engga.

 Rusty Tikarani
tp makin tua org makin pelupa dan g akan nginget hal2 gitu om, jd klopun lupa bkn berarti dia g perhatian :) @ re:mperhatikan dan tdk

 Rusty Tikarani
@ absolutely, tapi kita tidak bisa menghakimi orang itu peduli/tidak kepada kita hanya karena mereka ingat/tidak tanggal lahir kita.


 alfin tofler
@ emang ga cuma itu aja faktornya, tapi itu salah satu indikasinya, kalau dia setiap hari membuatkan makan apa lagi guna ucapan


 Rusty Tikarani
RT @: @ kalau dia setiap hari membuatkan makan apa lagi guna ucapan <- cetak tebal. setuju.

 Ines Sabatini Poetry 
klo gak mau disampahin. mendingan ga usah pny akun. kita kmbl ke jaman ngasih kartu ucapan :')

 Ines Sabatini Poetry 
asikan nulis tanggal lahir kamu di diary aku, kaya pas jaman sd. skalian mikes dan makes nya juga.


 Ajeng Chunduk 
@ 
gue tetep tau, @ ..bedain aja dari ucapannya. kalo ucapannya spesial, berarti orangnya emang mikirin buat doain dan nyemangatin.

Itu beberapa komentar dari teman-teman saya. Dan ini thesis statement saya :D
 alfin tofler
mencatat tanggal ulang tahun sama dengan mencatat no hp tak dikenal. Jika kalian anggap no itu tidak penting maka tak akan disimpan


Ini hanya racauan, setuju atau tidak itu pilihan anda. Jika ada saran atau komentar saya akan sangat senang sekali untuk menerimanya.
Seperti yang dosen saya selalu katakan



In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.

-- Brian Massumi