Saya akan mencoba mengurutkan bagaimana sistem pemilihan tersebut. Pertama, dalam pemilihan suatu organisasi, para tim suksesnya akan diberikan selamat karena calonnya telah menang dan dipilih oleh anggota organisasinya itu. Kedua dalam hal pemilihan kepala negara tentunya akan ada banyak orang akan memberikan selamat kepada partai yang mendukung dan keluarga atas terpilihnya orang tersebut sebagai Presiden. Bangga bukan. Mengapa hal itu tidak terjadi dalam kematian?
Kematian itu bukan pilihan manusia, Allah SWT lah yang memilih umatnya untuk menghadapnya. Kurang baik apalagi pencapaian umat manusia dibanding yang satu ini? Kematian untuk orang baik menurut saya untuk mencegah dia suatu hari bertindak jahat, sedangakan kematian untuk orang yang jahat untuk mencegah dia berbuat kejahatan lebih jauh lagi.
Kematian itu bukan hanya soal kesedihan, kematian itu juga menjadi ladang rezeki untuk orang lain, jika tak ada orang yang meninggal maka para penggali kubur tidak akan punya uang untuk membiayai keluarganya. Dengan kematian seseorang bisa menyelamatkan nyawa sang penggali kubur dan keluarganya. Sesungguhnya selalu ada sisi baik di setiap kejadian.
kayaknya ada salah kaprah dalam konsep mempersiapkan sesuatu, mempersiapkan itu kan artinya melakukan sesuatu untuk persiapan menyambut sesuatu. Misalkan ada keluarga yang mempersiapkan baju-baju bayi yang lucu untuk calon anaknya yang ada di dalam kandungan, dan orang tua yang mempersiapkan jas dan kebaya untuk mendampingi anaknya yang akan diwisuda.
Ya itulah mempersiapkan, lalu dimana salahnya? bukan salah sebenarnya, cuma ada sesuatu yang kurang untuk dipersiapkan, kelahiran anak dan wisuda anak itu merupakan suatu yang akan terjadi, tapi masih ada kemungkinan gagal. Ketika anda mempersiapkan diri anda untuk menyambut anak anda lahir kedunia dengan segalam macam peralatannya anda akan merasa sedih karena yang telah anda persiapkan untuk anak anda menjadi tidak berguna ketika sang ibu mengalami keguguran dan sang cabang bayi tidak jadi lahir. Mungkin akan keluar omongan entah dari siapapun itu, "sayang banget yah, padahal udah dipersiapin".
Hal yang sama juga akan terjadi ketika seorang anak ternyata Drop Out atau kehabisan masa studinya di universitas, padahal para orang tua telah mempersiapkan jas dan setelan kebaya untuk menghadiri acara wisuda anak mereka tersebut. Selalu ada kekecewaan jikasesuatu yang kita persiapkan secara matang mengalami kegagalan.
Tetapi hal ini tidak akan terjadi dengan kematian, kematian itu suatu yang pasti, yang membedakan itu hanyalah waktu, cara dan tempatnya saja. Kalau kita menyamakan persepsi dengan kedua kejadian diatas mungkin harusnya ada ucapan "yaaah ga jadi meninggal, padalah udah dipersiapkan semuanya".
Bukankah lebih baik kita mempersiapkan diri untuk sesuatu yang pasti daripada yang tidak pasti? Yang menyebabkan kesedihan mungkin hanya ketidaksiapan diri kita untuk menerima kehilangan. Orang tua saya selalu mengatakan ini yang harus kamu lakukan kalau papa meninggal, kamu haus ini, itu oleh karena itu dari sekarang kamu harus belajar ini, itu. Jadikanlah kehilangan kami kelebihan untukmu, kami pun tak mau jika dalam keadaan meninggal pun kami masih menjadi beban.
Mungkin akan indah jika saya meninggal dan orang-orang datang dengan tersenyum ke pemakaman saya karena saya orang yang terpilih :)
In order to write experimentally, you have to be willing to “affirm” your own stupidity.
-- Brian Massumi